Wening menoleh ke Pram yang menyetir dengan tatapan tidak mengerti. “Ya, semalam kamu panggil aku Mas, tapi sekarang panggil Pak lagi," ujar Pram akhirnya. “Oh, itu.” Wening tersenyum malu, dia barusan spontan menyapa Pram dengan sapaan “pak”. Padahal semalam dia sudah menyapa mas ke pram, dan suasana pun berubah lebih intim. “Apa perlu dienakin dulu biar kamu panggil aku mas lagi, hm?" goda Pram, sekilas meremas paha Wening. Wening menggeleng tertawa, sedikit menjerit karena Pram menggelitik pangkal pahanya. “Jadi kita ke mana, Mas?” “Ke hotel, aku lagi kepingin, Ning. Udah nggak tahan.” Wening menghela napas pendek, berusaha menepis peringatan Emi tadi pagi tentang kedekatannya dengan Pram, karena dia yang juga diselimuti keinginan. Pram menoleh ke Wening yang diam. “Kamu mau?”

