“Selamat pagi, Ibram. Apa kau tak mau bangun?” Jennifer menyambut pagi dengan senyum riang, ia memutar tubuh, tak dapat bangkit karena ada lengan kokoh yang melingkari tubuhnya. Senyumnya kian mengembang melihat wajah lelap suaminya yang tampak tak terganggu dengan kalimatnya ataupun pergerakannya. Dengan iseng, Jennifer pun langsung menggerakkan jari-jari lentiknya di wajah damai tersebut. Senyum penuh kemenangan muncul kala ia melihat Ibram mulai terganggu. Secara otomatis pria tersebut melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya sendiri. Secara perlahan Ibram pun akhirnya membuka mata, ia menghela napas melihat wajah jahil istrinya yang kini menjadi pemandangan pertamanya di pagi hari. Bukannya wajah manis atau sambutan penuh cinta, Jennifer kini makin giat saja dengan aksi jahilnya.