“Proyek ini penting untuk MA kan?” Seru Ricard sebelum gadis itu mencapai pintu. Aira menahan langkah kakinya lalu kembali memutar tubuhnya menatap ke arah Ricard. “Kamu sudah tahu semuanya.” Aira menjatuhkan tasnya, Ricard berjalan cepat memburu ke arahnya. Pria itu memagut bibirnya dengan kasar. Helai demi helai baju Aira meluncur jatuh di lantai. Keduanya kembali bermain di atas sofa ruangan utama. Aira memeluk kedua bahu pria yang kini tengah melakukan aktivitasnya di atas tubuh polosnya. “Hah, hah, hah!” Ricard terus berpacu dengan napas tersengal. “Em, Ric, pelanlah sedikit..” “Aku tidak sabar ingin menikahimu. Hah, hah!” Bisik pria tersebut seraya memutar posisi Aira agar duduk di atas tubuhnya yang kini telentang. “Jangan terburu-buru,” Bisik Aira dengan suara lirih. Ricard

