Bab 2: Rahasia di Balik Kanvas

1586 Kata
Suara ketukan sepatu hak tinggi Elena terdengar ganjil di koridor sunyi sayap barat rumah mewah itu. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Kamar tidurnya yang luas terasa seperti sangkar yang perlahan kehabisan oksigen. Setiap kali ia memejamkan mata, sentuhan posesif tangan Adrian di pinggangnya dan rasa hangat bibir pria itu kembali membakar kulitnya, menyisakan denyut penolakan sekaligus hasrat yang membingungkan. Peringatan terakhir Adrian sebelum ia keluar dari ruang kerja terus terngiang, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Kunci pintumu malam ini, Elena. Ada banyak hal di rumah ini yang tidak seindah kelihatannya. "Dasar pria gila," gumam Elena pelan, menekan tombol lift menuju ruang restorasi seni yang terletak di lantai dasar. Elena memutuskan untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Galeri bawah tanah ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas tanpa harus menghirup aroma koloni kayu cendana milik Adrian yang maskulin. Di ruangan luas yang dipenuhi lampu-lampu sorot berspektrum tinggi ini, berjejer puluhan kanvas peninggalan ibunya, Karina. Koleksi seni bernilai miliaran rupiah yang selama tujuh tahun ini dikelola penuh oleh Adrian sebagai wali hukumnya. Elena mengenakan jubah putih pelindung dan sarung tangan lateks. Langkahnya terhenti di depan sebuah stan kayu besar yang menopang sebuah lukisan lanskap cat minyak. Lukisan itu menggambarkan tebing curam berselimut kabut yang menghadap langsung ke laut lepas—karya terakhir yang diselesaikan Karina sebulan sebelum kecelakaan maut itu merenggut nyawanya. Setiap kali Elena menatap kanvas itu, rasa bersalah langsung menghantam ulu hatinya. Ibunya telah tiada, runtuh bersama mobil yang terjun ke jurang, sementara dirinya kini justru mendesah di dalam pelukan pria yang pernah berbagi ranjang dengan ibunya. Hubungan ini tabu. Salah. Mengutuk nuraninya sendiri. "Maafkan aku, Ibu," bisik Elena lirih, jemarinya yang terbungkus lateks menyentuh permukaan cat minyak yang telah mengering sempurna. Namun, saat ujung jarinya bergerak ke arah sudut kanan bawah kanvas, dekat dengan tanda tangan sang ibu, Elena merasakan sesuatu yang ganjil. Ada sensasi kaku yang tidak biasa. Ketebalan kain kanvas di area sudut itu terasa berlipat ganda dibandingkan dengan bagian tengah lukisan. Elena mengernyitkan dahi. Sebagai kurator dan restorator berpengalaman, ia tahu persis anatomi sebuah lukisan abad modern. Ia mendekatkan wajahnya, menyalakan lampu ultraviolet portabel, dan mengarahkannya ke bingkai kayu bagian belakang. Ada bekas jahitan benang nilon hitam yang sangat rapi di sepanjang lipatan kain kanvas yang menempel pada spanram (bingkai kayu bagian dalam). Jahitan itu bukan standar dari pabrikan, melainkan dikerjakan secara manual dengan sangat hati-hati. Seseorang telah membedah lukisan ini, lalu menyatukannya kembali dengan rahasia di dalamnya. Jantung Elena mulai berdegup tidak keruan. Mengabaikan kode etik restorasi yang biasa ia agungkan, ia menyambar pisau palet bermata tipis dari atas meja alat. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menyayat benang nilon tersebut satu demi satu. Kain kanvas bagian belakang melonggar. Benar saja, di antara lapisan luar yang bergambar lanskap laut dan kain pelapis dalam, terdapat sebuah kompartemen tipis yang sengaja disisipkan. Elena memasukkan dua jarinya yang gemetar ke dalam celah sempit itu. Sentuhan pertamanya mengenai material kulit. Ia menariknya perlahan. Sebuah amplop kulit tipis berwarna cokelat kusam, sewarna dengan debu yang melekat di sudut-sudut terdalam rumah ini, berhasil ia keluarkan. Di dalam amplop itu terdapat beberapa lembar kertas dari buku harian bergaris yang ujungnya sudah mulai menguning. Elena meletakkan pisau paletnya, lalu membuka lipatan kertas pertama. Matanya membelalak saat mengenali goresan tinta hitam di atasnya. Itu adalah tulisan tangan ibunya. Tulisan tangan Karina yang rapi, condong ke kanan, namun di lembar-lembar ini, goresannya tampak tergesa-gesa, seolah ditulis di bawah tekanan rasa takut yang luar biasa. Elena mulai membaca dalam hati, baris demi baris, sementara udara di sekitarnya mendadak terasa sedingin es. 14 Maret 2019. Rumah ini tidak lagi terasa aman. Aku tahu dia mengawasiku. Setiap kali Adrian pulang dari kantornya, tatapannya tidak lagi sama. Pria yang kunikahi setahun lalu itu seperti menyimpan monster di balik senyum karismatisnya. Kemarin malam, aku menemukan rem mobilku blong saat berada di area parkir kantor. Montir bilang ada bekas sayatan sengaja di selang minyak rem. Aku tahu itu perbuatannya. Dia menginginkan koleksi ini. Dia menginginkan kendali penuh atas hidupku—dan hidup Elena. Napas Elena tercekat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat tulisan di kertas itu tampak mengabur. Ia membalik halaman berikutnya dengan tergesa-gesa. Angka tahunnya adalah tepat beberapa hari sebelum kecelakaan maut itu terjadi. 2 April 2019. Jika sesuatu terjadi padaku, jika mereka menyebut kematianku sebagai kecelakaan maut di jalan raya, jangan pernah percaya. Mereka semua berada di bawah kendalinya. Pengadilan, polisi, semua bisa dibeli oleh seorang pengacara korporat terkemuka seperti dia. Elena, anakku, jika kau menemukan catatan ini suatu hari nanti... larilah. Jangan pernah percaya pada air mata palsunya atau janjinya untuk menjagamu. Jika aku mati, itu bukan kecelakaan. Adrian yang melakukannya. Dia yang membunuhku. "Tidak... tidak mungkin," bisik Elena, suaranya bergetar hebat. Kertas di tangannya bergemisik akibat guncangan tubuhnya yang mendadak lemas. Seluruh dunianya runtuh dalam satu detik. Pria yang beberapa jam lalu mendekapnya dengan penuh gairah, pria yang bibirnya ia sesap dengan rasa lapar yang berdosa, ternyata adalah monster yang telah merenggut nyawa ibunya. Semua perhatian Adrian selama tujuh tahun ini, semua beasiswa yang dikirimkan ke Paris, dan alasan Adrian memanggilnya kembali ke Jakarta... semuanya adalah bagian dari sandiwara berdarah dingin. Dia mendekatiku untuk membungkamku. Atau lebih buruk... menjadikanku korban berikutnya, pikir Elena, didera rasa ngeri yang luar biasa. Tiba-tiba, suara dengung mesin lift yang bergerak turun memecah keheningan laboratorium seni. Lampu indikator di atas pintu lift berubah dari angka satu menjadi angka nol. Elena tersentak dari pingsan mentalnya. Seseorang sedang turun ke ruangan ini. Dan di rumah sebesar ini, hanya ada satu orang yang memiliki akses bebas ke area bawah tanah selain dirinya. Adrian. Kepanikan massal menguasai otak Elena. Dengan gerakan kalap, ia melipat kembali kertas-kertas harian ibunya, memasukkannya ke dalam saku jubah restorasi putih yang ia kenakan, lalu menekan saku itu kuat-kuat agar tidak terlihat menggembung. Ia buru-buru membalikkan lukisan lanskap tersebut ke posisi semula, mencoba menyembunyikan robekan kanvas di bagian belakang dengan menyandarkannya rapat-rapat ke dinding. Ting. Pintu lift terbuka. Langkah kaki kokoh dan berat milik Adrian bergema di atas lantai beton ekspos yang dingin. Pria itu sudah berganti pakaian, mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan guratan urat tangan yang kuat. Di tangan kirinya, ia membawa sebuah nampan kecil berisi dua cangkir kopi yang mengepulkan uap panas. "Kau memulai pekerjaanmu terlalu pagi, Elena," suara bariton Adrian menggema, tenang namun sarat akan aura intimidasi yang kini terasa sepuluh kali lipat lebih mengerikan di telinga Elena. Elena memaksakan dirinya untuk berbalik, meremas kedua tangannya di balik saku jubah untuk menyembunyikan getaran hebat yang melanda tubuhnya. Ia menatap Adrian, mencoba sekuat tenaga mempertahankan topeng ketenangannya, meski di dalam dadanya, genderang perang telah bertalu-talu. "Aku tidak bisa tidur," jawab Elena, suaranya terdengar sedikit parau, yang untungnya bisa dikira sebagai efek dari udara dingin ruang bawah tanah. "Lebih baik menyelesaikan kurasi ini secepat mungkin, seperti yang kau minta." Adrian berjalan mendekat, meletakkan nampan kopi di atas meja kerja, tepat di samping pisau palet yang tadi digunakan Elena untuk merobek kanvas. Adrian melirik pisau itu, lalu mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke mata Elena. "Kau tampak pucat," kata Adrian perlahan, melangkah satu jengkal lebih dekat hingga Elena bisa menghirup aroma tubuhnya. Pria itu mengulurkan tangan kanan, berniat menyentuh kening Elena untuk memeriksa suhunya. "Apakah kau sakit?" Melihat tangan yang dituduh ibunya sebagai tangan seorang pembunuh itu bergerak mendekat, insting bertahan hidup Elena berteriak histeris. Ia secara refleks melangkah mundur, menghindari sentuhan Adrian dengan gerakan yang terlalu kentara. Tangan Adrian tertahan di udara. Matanya menyipit, kilatan dingin yang intens kembali hadir di manik mata hitamnya yang pekat. Perubahan sikap Elena yang mendadak dan drastis itu tidak luput dari perhatian sang pengacara ulung. "Ada apa denganmu, Elena?" tanya Adrian, suaranya merendah, menuntut jawaban yang jujur. "Beberapa jam lalu kau membalas ciumanku seolah kau merindukanku setengah mati. Dan sekarang, kau menatapku seolah-olah aku adalah musuh terbesarmu." Elena menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Ia tahu, satu kesalahan kecil dalam bicaranya saat ini bisa berakibat fatal. Ia harus bermain dalam labirin kebohongan ini jika ingin keluar dengan selamat. "Aku hanya... teringat Ibu," dusta Elena, suaranya bergetar tulus karena rasa sakit yang nyata. Ia menunjuk ke arah lukisan lanskap di belakangnya. "Melihat karya-karyanya kembali membuatku sadar betapa salahnya apa yang kita lakukan semalam. Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Adrian. Tolong, biarkan aku profesional." Adrian menatap Elena lama, mencoba menyelami apa yang tersembunyi di balik mata bulat wanita itu. Sesaat, tatapan Adrian beralih ke lukisan tebing curam di belakang Elena, seolah-olah ia tahu apa yang baru saja terjadi pada kanvas tersebut. "Begitu rupanya," kata Adrian pelan, menurunkan tangannya ke samping tubuh. Ia mengambil satu cangkir kopi dan menyodorkannya kepada Elena. "Minumlah. Ini akan menghangatkanmu. Aku harus pergi ke kantor firma hukum sekarang, ada beberapa berkas kasus korporat yang harus kuselesaikan sebelum siang." Elena menerima cangkir itu dengan tangan gemetar, berhati-hati agar lateksnya tidak menimbulkan suara berdecit. "Terima kasih." Adrian berbalik, berjalan menuju lift. Namun, tepat di ambang pintu lift, ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. "Oh, satu hal lagi, Elena," ujar Adrian, suaranya terdengar datar namun sarat akan ancaman yang terselubung. "Jangan menyentuh barang-barang di ruang kerja pribadiku selama aku pergi. Aku telah memasang sistem pengaman baru yang mendeteksi setiap sidik jari asing. Aku tidak ingin kau terluka karena rasa penasaranmu sendiri." Klek. Pintu lift tertutup, membawa Adrian kembali ke lantai atas. Elena langsung meletakkan cangkir kopi itu hingga isinya sedikit tumpah. Tubuhnya merosot ke lantai beton yang dingin, mendekap saku bajunya yang berisi surat kematian ibunya. Permainan kucing-kucingan berdarah ini baru saja dimulai, dan Elena tahu, ia harus masuk ke dalam ruang kerja pribadi Adrian malam nanti, apa pun risikonya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN