“Mau ngapain dia?! Ngapain dia deket-deket!” pekik Viona yang kali ini malah melotot pada Leon.
Namun bukannya menjauh, Leon malah semakin mendekat. Wajah pria itu terus maju, sampai membuat Viona harus memalingkan wajahnya, khawatir akan terjadi yang tidak-tidak.
Leon menyembunyikan senyumnya saat melihat Viona panik. Ini juga bukan keinginannya, tapi rak di belakangnya tidak mengizinkannya berdiri tegak.
Viona sampai mencoba memiringkan badannya agar dia tidak menempel dengan Leon. Tapi pria itu telah mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya, jadi dia tidak bisa ke mana-mana.
“Bentar ya. Aku juga gak bisa bergerak,” bisik Leon pelan di telinga Viona.
Viona sedikit melirik ke arah Leon. Sepertinya posisi pria itu juga tidak nyaman.
Akhirnya Viona pun hanya bisa pasrah. Dia memilih membuang muka, meski di tetap tidak bisa bergerak banyak.
Untungnya pintu lift cepat kembali terbuka. Para OB dan peralatannya yang memenuhi ruangan, keluar dari ruangan besi itu.
Viona bisa bernapas lega saat Leon sudah pergi. Dia sedikit mengibaskan tangannya di badannya, mengisyaratkan kalau dia tidak menyukai keadaan ini.
Leon hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Viona. Tapi Leon juga tidak ingin memperpanjang urusan dengan adik iparnya itu.
Viona dan Leon keluar dari lift dan menuju ke restoran. Tidak berdua, tapi Viona memilih berjalan lebih dulu.
Leon berjalan santai di belakang Viona. Langkahnya yang lebih panjang dari Viona, membuat dia tidak akan tertinggal terlalu jauh dari wanita mungil itu.
Leon terus melihat ke arah Viona. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya, tapi Leon seperti sedang ditarik oleh magnet kuat yang dimiliki Viona, untuk terus melihat ke arahnya.
“Kenapa dia keliatan aneh. Dia gak seperti wanita yang sedang jatuh cinta pada umumnya. Mati. Dia gak mau adiknya mati kedua kalinya. Apa ini berhubungan dengan Robin?” gumam Leon pelan sambil terus melihat ke Viona.
“Tapi Bianca masih hidup. Lalu apa yang dia maksud dengan adiknya mati? Arg! Apa yang dia sembunyikan sebenarnya?!” geram Leon yang tidak menemukan jawaban tepat tentang Viona.
Leon masuk ke dalam restoran. Dia melihat Viona duduk di bangku untuk berdua dan sibuk dengan ponselnya. Dia memilih duduk di kursi lain, tidak ingin bersinggungan dengan adik iparnya.
Setelah selesai makan, Viona kembali ke kamarnya. Sepi, Robin belum kembali.
Viona memutuskan untuk segera tidur, mengumpulkan energi untuk resepsi.
Malam pun tiba. Viona dan Robin telah masuk ke area resepsi yang sudah dipadati oleh para undangan. Tentu saja undangan yang datang, jauh lebih banyak dari acara pagi tadi.
Senyum bahagia juga tidak lupa dia pasang. Tangannya juga melingkar di lengan Robin dan sikap manisnya pada sang suami harus dia pamerkan di depan semua orang, agar tampak menjadi pengantin yang bahagia sempurna.
Suasana pernikahan berlangsung meriah. Suara musik yang menggema disertai kilatan sinar laser, membungkam suara cibiran dan bisik-bisik para tamu yang membicarakan berita pertukaran pasangan itu.
Kali ini di tengah ruang pesta, Viona dan Robin sedang berdansa. Mereka seperti pasangan sempurna.
Robin seperti sedang memamerkan Viona pada semua undangan, kalau dia adalah pemenangnya.
“Robin,” panggil Haris sambil menepuk pundak menantunya.
Robin menoleh dan melepas tangannya yang mengunci pinggang Viona agar tak jauh darinya sejak tadi.
“Ya, Pa,” jawab Robin saat melihat mertuanya datang.
“Boleh pinjem, Viona?” lanjut Haris dengan senyum lebar.
“Oh tentu saja, Pa. Silakan.” Robin langsung memberikan tangan istrinya agar bisa berdansa bersama papanya.
Viona tersenyum tipis pada sang papa saat mereka berdansa. Viona menyandarkan kepalanya di d**a sang papa, ingin meletakkan sebentar bebannya dan mengambil energi papanya yang selalu menguatkannya.
“Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Vi. Papa akan merasa gagal dan malu kalo kehidupan rumah tanggamu bermasalah, setelah kamu menyakiti adikmu,” ucap Haris pelan sambil mengusap punggung anaknya.
Viona membuat jarak dengan papanya. Dia menatap pria paruh baya yang selalu mencintainya itu dengan mata berkaca-kaca.
Haris tersenyum tipis tapi mimik wajahnya seperti orang yang menahan tangis. Tapi Haris tidak ingin merusak suasana, meski ada getir di hatinya karena putri bungsunya masih menangis.
“Setidaknya, ada satu putri papa yang bahagia sekarang. Papa yakin, suatu saat Bianca akan mendapatkan jodohnya. Janji sama papa, kamu akan bahagia,” ucap lembut Haris sambil mengusap air mata Viona yang berhasil jatuh dari kelopak matanya.
Tak mampu membalas ucapan papanya, Viona langsung meringsak masuk ke pelukan sang papa. Dia tidak bisa menahan tangisnya, melihat pria yang dia kagumi mengharapkan kebahagiaannya.
Tentu saja sejak awal Viona tahu kalau tidak akan pernah bahagia bersama Robin. Tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu, setelah membuat keributan besar, sampai keluarganya menjari bahan omongan orang.
Haris berusaha menahan rasa harunya. Dia tidak ingin putrinya sedih melihatnya.
Tanpa Viona sadari, di meja utama, tatapan Leon tertuju pada pasangan ayah dan anak itu. Dia menatap Viona yang belakangan kerap mengganggunya.
“Apa muka itu gak terlalu sedih untuk sebuah perayaan pesta mewah. Dari tadi sorot matanya juga gak seindah senyumnya. Apa dia gak menikmati pestanya?” gumam Leon pelan sambil terus menatap Viona dan Haris.
Bibir Leon sedikit senyum, saat dia bisa melihat tawa Viona setelah menangis bersama papanya. Tapi lagi-lagi mata Leon melihat sesuatu yang berbeda.
Senyum Viona saat bersama papanya terlihat sangat bahagia dari hatinya. Dia bahkan mampu tertawa bersama papanya di tengah lantai dansa itu sambil bermanja seperti anak kecil.
Tak seperti saat bersama Robin. Pria yang di mata semua orang sangat meratukan istrinya, namun senyum indah di bibir Viona itu tak membuat sorot mata sang ratu ikut berbinar.
“Apa dia terlalu canggung sama Robin? Ato ... benar-benar ada yang dia sembunyikan,” gumam Leon dalam hati sambil terus menatap Viona.
Leon meninggalkan mejanya. Langkah kakinya tertuju ke wanita yang sejak tadi penjadi pusat perhatiannya.
“Pak Haris,” sapa Leon sambil menepuk pelan pundak pria paruh baya itu.
Haris sedikit kaget dan langsung berbalik. “Eh iya. Ada apa, Leon?” tanya Haris.
Tatapan Leon beralih ke arah Viona. Wanita yang tadi tampak sangat bahagia dan manja saat bersama papanya, mendadak memasang wajah kesal.
Viona menatap Leon dengan tatapan tajam, bahkan bibirnya pun sampai mengerucut.
“Maaf Pak, apa boleh saya berdansa dengan Viona?” tanya Leon.
“Viona?” Haris menoleh ke putrinya.
“Kami kan saudara ipar. Lagi pula sebentar lagi kami juga akan tinggal bersama. Jadi, saya juga ingin terlihat akrab dengan Viona,” sahut Leon lagi.
“Ada apa ini?” celetuk Robin yang datang bergabung setelah berdansa dengan Linda.
Haris menoleh ke menantunya. “Oh, kebetulan kamu dateng. Ini kakak kamu mau ngajak Viona dansa,” lapor Haris pada sang menantu.
Robin menoleh ke kakaknya yang berdiri di sampingnya lalu melihat ke Viona yang masih menggandeng lengan Haris.
“Oh gak papa. Sekalian aku titip Viona bentar,” jawab Robin santai.
Robin menoleh ke mertuanya. “Pa, saya mau kenalin Papa ke Bu Rosa yang tempo hari saya ceritakan. Beliau baru dateng.”
“Oh Bu Rosa. Mana orangnya.”
Tak perlu waktu lama, Robin langsung membawa Haris pergi dari lantai dansa, menemui tamu special yang dia undang.
Robin sempat menepuk lengan kakaknya dua kali, pertanda dia menitipkan istrinya pada orang kepercayaannya.
Viona melihat ke Robin yang pergi dengan papanya. “Heh! Kok malah dititipin sih? Aku bukan barang tau! Robin b******k!” umpat Viona dalam hati sambil mendengus kesal.
Viona menoleh lagi ke Leon. Dia cemberut, membiarkan pria itu mengetahui penolakannya tanpa dia ucapkan.
Tapi bukan Leon namanya kalau dia peduli dengan perasaan Viona. Dia malah mengulurkan tangannya, siap mengajak adik iparnya berdansa.
Viona makin cemberut. Dia memilih melengos dan bersiap pergi dari lantai dansa.
Namun, Leon lebih cepat meraih tangan Viona dan melingkarkan satu tangannya di pinggang Viona. Gerakannya sangat cepat, sampai membuat Viona tidak sempat lagi untuk menolaknya.
Viona sampai terperangah, saat tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh Leon. Dia langsung mendongak menatap pria menyebalkan itu.
Tatapannya bertemu dengan Leon. Pria itu tersenyum dengan sorot mata menggoda.
“Apa kau suka?” tanya Leon pelan dengan suara beratnya.
“Su-suka?”