Bab 03

791 Kata
Di sebuah pemukiman padat dengan gang-gang sempit, Olivia Yosephine baru saja melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya yang kecil dan kusam. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu terasa sangat sunyi. Setelah mengunci pintu, Olivia merebahkan tubuhnya yang sangat lelah di atas sofa kain yang busanya sudah menipis. Peluh masih tersisa di pelipisnya akibat terik matahari dan rasa cemas yang menghimpit d**a sejak siang tadi. Olivia meraup wajahnya, lalu dengan tangan gemetar membuka dompet lipat kecil berwarna hitam milik dirinya. Ia mengehluarkan seluruh uang yang tersisa di sana dan menghitungnya kembali di bawah pendar redup lampu pijar. Satu... dua... tiga... empat. Hanya ada empat lembar uang seratus ribuan. Empat ratus ribu rupiah. "Empat ratus ribu..." cicit Olivia datar, menatjap lembaran uang itu dengan tatapan kosong dan keputusasaan yang mendalam. "Cari di mana lagi pekerjaan baru? Uang sewa rumah tinggal dua minggu lagi, belum biaya makan sehari-hari..." Rasa ketidakadilan membakar dadanya. Ia dipecat lagi hanya karena tuduhan palsu sang atasan yang gagal menyentuhnya. Mengapa hidupnya begitu sulit setelah bercerai dari Vernon? Dulu ia hidup bergelimang kemewahan namun terasing secara emosional; kini ia bebas, namun tercekik oleh kemiskinan. Namun, sebelum Olivia sempat merenungi nasibnya lebih jauh, suara benturan keras menghantam pintu depan rumahnya! BRAMMM! Pintu kayu lapuk itu jebol seketika. Tiga pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah menerobos masuk tanpa peringatan. Olivia menjerit histeris, melompat dari sofa dan berusaha berlari menuju pintu belakang. "Siapa kalian?! Tolong! TOLONGG—" Jeritan Olivia terputus seketika ketika salah seorang pria menangkap tubuhnya dari belakang. Sebuah kain beraroma obat bius menyengat langsung dibekapkan erat-erat ke hidung dan mulutnya. Olivia berontak sekuat tenaga, jemarinya mencakar lengan pria tersebut, namun dalam hitungan detik, kekuatannya terkuras habis. Pandangannya mengabur, kesadarannya menguap, dan tubuhnya terkulai lemas di dalam dekapan para penculik. --- Beberapa jam kemudian. Kesadaran Olivia perlahan-lahan kembali. Kepala bagian belakangnya terasa berat dan berdenyut nyeri akibat efek sisa obat bius. Bau apak rumah kontrakan dan hawa panas telah lenyap sepenuhnya, berganti dengan aroma kemewahan yang teramat familier: wangi mawar putih segar, aroma minyak kayu cendana mahal, dan sentuhan *leather* eksklusif. Olivia mengerjapkan matanya berulang kali. Ketika penglihatannya kembali jernih, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Ia tidak berada di rumah kontrakannya. Ia berbaring di atas tempat tidur *king-size* bernuansa royal dengan sprei sutra hitam yang lembut di dalam sebuah kamar tidur yang sangat luas dan megah. Dinding-dindingnya berhias ukiran gipsum emas, sementara chandelier kristal menggantung anggun di langit-langit. Ini adalah kamar utama di mansion megah milik Vernon Abraham—sangkar emas yang pernah mengurungnya selama empat tahun. "N-nggak... tidak mungkin..." bisik Olivia gemetar. Ia memeriksa tubuhnya dan menyadari pakaian lusuhnya telah berganti menjadi gaun tidur sutra krem yang tertutup rapat dari leher hingga pergelangan kaki. Tiba-tiba, suara pintu tebal berderit halus. Sesosok pria berpostur tinggi tegap melangkah masuk dengan tenang. Vernon Abraham berdiri di sana. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian leher, dan lengan kemejanya tergulung rapi. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi wiski cair berwarna keemasan. Mata elang Vernon menatap Olivia tajam, dipenuhi aura d******i murni yang tak tertandingi. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah perlahan, memangkas jarak di antara mereka. "Apa yang kamu inginkan, Vernon?!" seru Olivia dengan nada bergetar, berusaha menahan amarah yang membakar dadanya sembari mundur mendekat ke kepala tempat tidur, menatap pria itu dengan pandangan benci. "Dua tahun kita berpisah! Kamu sudah menikah dan bercerai enam kali. Kenapa kamu tidak menyeret salah satu mantan istrimu yang lain untuk memenuhi ego gilamu?" Vernon melangkah maju, memangkas jarak hingga bayangannya yang jangkung mengurung tubuh Olivia sepenuhnya di atas tempat tidur. Ia menyesap wiskinya sedikit, menatap Olivia tanpa ada rasa penyesalan atau keputusasaan sedikit pun di wajah tampannya. "Karena tidak ada dari mereka yang berhak melahirkan keturunanku, Olivia," jawab Vernon dengan suara berat yang bernada perintah tak terbantahkan. "Aku hanya ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku. Cukup berikan aku satu putra. Setelah kamu melahirkan seorang putra untukku, aku berjanji akan membebaskanmu sepenuhnya dari hidupku." "Kamu gila!" potong Olivia dengan tatapan tidak percaya, menolak mentah-mentah ide gila tersebut. Matanya membelalak penuh kemurkaan. "Kamu bisa menghamili para mantan istrimu yang lain! Jangan aku! Kenapa harus aku?!" Vernon menaruh gelas kristalnya di meja samping tempat tidur, lalu menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Karena aku hanya mau kamu yang menjadi ibu dari anakku," bisik Vernon dingin dan posesif, mengabaikan penolakan keras dari wanita di hadapannya. "Hanya kamu, Olivia. Cukup berikan satu putra, maka kamu bebas." "TIDAK AKAN PERNAH!" jerit Olivia histeris, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang pria yang paling ia benci sekaligus takuti itu. Namun bagi Vernon, penolakan itu hanyalah hambatan kecil. Olivia kini berada di dalam kekuasaannya, terkurung di dalam sangkar emas yang tak akan biarkan wanita itu lolos sampai tujuannya terwujud.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN