Cahaya matahari pagi menerobos hangat melalui celah-celah tirai sutra tebal di kamar utama Mansion Abraham, memantulkan pendar emas di atas lantai marmer yang dingin. Suasana kamar terasa teramat hening, hanya diselingi oleh deru halus air conditioner yang menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Di atas tempat tidur king-size yang berantakan, Olivia perlahan membuka matanya. Bulu matanya yang tebal bergetar pelan saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Namun, baru saja ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, rasa nyeri yang mendalam seketika menjalar hebat dari bagian pinggang hingga merambat turun ke area bawah tubuhnya. "Nngghh... aaahh..." Meringis kesakitan, Olivia refleks memegang pinggangnya seraya memejamkan mata rapat-rapat. Rasa pegal, linu, dan perih yang teramat sangat menyen

