Bab 3. Kejutan Untuk Sang AKP

1050 Kata
Sadewa seolah tersedot ke dalam lorong waktu yang gelap. Tatapan mata Erika terasa menghujam jantungnya lebih dalam dari sebutir peluru. Namun, genggaman tangan Hanita di lengannya seolah menarik pria itu untuk kembali ke kenyataan yang pahit. "Sayang, kenalin ini temenku Mahesa. Dia dokter forensik. Kalian kan sama-sama polisi, mungkin besok kalian akan jadi partner," ucap Hanita dengan nada ceria, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di hati suaminya. Sadewa terpaksa memutuskan kontak mata dengan Erika. Dia berdeham, mencoba menetralkan suaranya. "Sadewa," ucapnya singkat sambil menyalami Mahesa. "Sadewa ...." Kening Mahesa berkerut. "Ah ... iya benar." Mahesa mengangguk lalu tersenyum lebar. "Anda AKP yang baru kan, ya? Tiga balok di pundak dalam usia semuda ini, Anda benar-benar berprestasi." Erika, di balik etalase, merasa dunianya berguncang. Jabatan itu, tiga balok emas di pundak, Sadewa kini jauh lebih berkuasa. Wanita itu bergegas menunduk, pura-pura menyibukkan diri dengan mengelap meja yang sudah bersih berkali-kali. Tangannya bergetar hebat saat dia merasakan tatapan tajam sang AKP kembali beralih padanya, seolah sedang melakukan interogasi tanpa kata-kata. "Oh iya!" Hanita menoleh ke arah Erika. "Mbak Erika, kenalin ini suami saya, namanya Sadewa. Sayang, dia Mbak Erika yang punya kedai Dapur Bu Mirah. Rasa capcaynya juara, kamu harus coba!" Erika merasa oksigen di sekitarnya habis. Dia terpaksa mendongak sedikit, meski tak berani menatap mata Sadewa. "Se-selamat sore, Pak AKP." Lidahnya terasa kelu menyebut pangkat baru pria itu. Sadewa tidak menjawab, matanya menyipit, memindai wajah Erika yang nampak lebih dewasa dan lebih cantik. Ada ribuan pertanyaan yang ingin dia teriakkan. Ke mana saja kamu? Kenapa kamu pergi? Namun, di sampingnya ada Hanita, wanita yang kini menjadi istrinya karena perjodohan yang tak bisa dia tolak saat dia kehilangan jejak Erika. "Sore, Erika." Sadewa menyebut nama itu dengan penekanan yang membuat bulu kuduk Erika meremang. "Sayang, ayo sini duduk dulu, aku habiskan makananku dulu, ya. Mau aku pesankan kopi nggak?" tanya Hanita sembari menarik tangan Sadewa di kursi yang ada di sampingnya. "Iya," jawab Sadewa singkat, pandangannya tidak lepas dari sosok Erika yang sedang berpura-pura sibuk di balik etalase. Hanita kemudian menoleh ke arah Erika. "Mbak Erika, tolong kopi hitamnya satu ya buat suami saya. Gulanya sedikit saja." Erika tersentak, dia mengerjapkan mata seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk. "I-iya, Dokter. Segera saya buatkan." Dengan gerakan mekanis, Erika menyeduh kopi dengan tangan yang gemetar hebat. Uap panas yang membumbung di depan seolah menjadi tirai tipis yang menyembunyikan wajah pucatnya dari tatapan tajam pria yang kini duduk hanya beberapa meter darinya. Tak lama, Erika melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban ribuan ton yang mengikat. Dengan tangan yang masih gemetar hebat hingga sendok di atas piring kecil beradu dengan cangkir, dia meletakkan kopi itu di hadapan Sadewa. "Terima kasih, Erika." Suara Sadewa terdengar rendah, dalam, dan penuh penekanan yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Erika membalas dengan anggukan singkat. "Sama-sama," bisiknya tanpa berani menatap mata pria itu, lalu hendak berbalik Tapi, belum juga Erika berbalik, terdengar suara yang memecah ketegangan yang menyesakkan itu. "Ibu!" "Ibu!" Nampaklah dua bocah mungil berlari riang menembus kantin, mereka menghambur dan memeluk pinggang Erika dengan erat. Tepat di hadapan Erika, Sadewa yang sedang memegang cangkir terkesiap. Perlahan, pria berpangkat AKP itu meletakkan kembali cangkirnya, matanya menyipit tajam menatap Erika yang sedang dipeluk kedua bocah itu. Hanita, yang memang penyuka anak kecil, langsung berseru gemas. "Wah ... ada anak kembar cowok cewek. Lucunya ... aku nggak nyangka loh, ternyata Mbak Erika sudah punya anak. Aku pikir kamu masih gadis." Mahesa menimpali dengan senyuman lebar di bibirnya. "Erika itu single mom, Han. Hebat loh dia, bisa membesarkan si kembar ini sendirian bersama ibunya." "Eh, terus di mana ayah si kembar?" tanya Hanita spontan dengan kening berkerut. Suasana mendadak hening. Erika merasa lidahnya kelu. Namun, Narista, sang gadis kecil, menjawab dengan polosnya. "Kita nggak punya Ayah, Tante." Lalu Nakula menimpali dengan suara yang lebih tegas. "Kata Nenek, Ayah kami sudah meninggal." Meninggal .... Kata itu, entah kenapa menghantam d**a Sadewa seperti peluru kaliber besar. Jantung pria itu berdegup kencang secara tidak beraturan. Dia menatap lekat-lekat pada bocah laki-laki yang baru saja bicara. Bocah itu memiliki garis rahang yang tegas dan sorot mata yang tajam, wajahnya sangat familiar. "Nakula, Narista, ayo kita ke kedai, Ibu punya pekerjaan buat kalian!" Erika memotong pembicaraan itu dengan suara panik, dia berusaha menarik kedua anaknya menjauh. "Tapi aku mau main sama Om Mahesa, Bu!" rengek Nakula. "Di handphone Om Mahesa ada banyak game keren." "Iya, aku juga mau main sama Om Mahesa!" tambah Narista. "Aku mau main game juga di handphone Om Mahesa." Mahesa mengangguk antusias. "Iya ayo sini kalian main sama Om! Nggak apa-apa ya, Er. Aku pinjam anak-anakmu dulu." "Please, Ibu ...." Kedua bocah itu memasang puppy eyes yang selalu berhasil membuat Erika tak berdaya. Dan ya, akhirnya Erika mengangguk pasrah dan melangkah kembali ke balik etalase, meninggalkan si kembar dalam pengawasan Mahesa, tepat di depan mata Sadewa. Sementara Sadewa duduk mematung, pikirannya mendadak kalut luar biasa. Dia berpura-pura menyesap kopi, tapi matanya terus mencuri pandang pada Nakula yang sedang tertawa bersama Mahesa. "Anak itu ...," batin Sadewa bergejolak. Sadewa memperhatikan Nakula dengan detil. Cara bocah itu berbicara dan cara bocah itu menyipitkan mata saat tertawa. Semuanya seolah menjadi kepingan puzzle yang mulai menyatu di kepala sang AKP itu. "Dia anak Erika, ya?" Sadewa bertanya pada dirinya sendiri dengan napas yang mulai terasa sesak. Logika detektifnya mulai bekerja. Erika tiba-tiba menghilang enam tahun lalu, di saat dia sedang dinas di luar kota dan si Erika bilang hendak memberinya kejutan saat dia pulang dari dinas. Dan sekarang, anak-anak itu terlihat berusia sekitar lima tahun, waktunya sangat presisi. "Apa Erika menikah dengan pria lain?" Rasa cemburu yang gelap mendadak menyelimuti hati Sadewa, tapi segera berganti dengan kecurigaan lain yang lebih besar. "Lalu kenapa anak laki-laki itu sangat mirip denganku?" Tangan Sadewa yang memegang cangkir kini ikut bergetar. Dia menoleh ke arah Erika yang sedang sibuk, atau lebih tepatnya sedang berpura-pura agar terlihat sibuk. "Jangan-jangan mereka anakku? Kejutan itu ... kejutan yang Erika akan berikan padaku saat aku pulang dari dinas dulu adalah kabar kehamilannya," batinnya merasa yakin. "Tapi, jawaban si kembar tadi, bahwa ayah mereka sudah meninggal ... kenapa? Kenapa harus berkata jika Ayah mereka sudah meninggal?" Kemarahan, rasa bersalah, dan kerinduan meledak menjadi satu di dalam d**a Sadewa. "Mas Dewa? Mas? Kok melamun?" Suara Hanita menyentak Sadewa kembali ke kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN