Alena menatap Rendi yang masih terkurung di tabung kriogenik. Es mulai mencair perlahan, tetapi suara langkah berat dari Ghostline sudah jelas terdengar bergema di lantai logam. Jantungnya berdetak kencang—ia tidak punya pilihan selain bertarung. Ia merunduk di balik tabung besar, merogoh tas kecil yang selalu dibawa Markus. Di dalamnya ada beberapa perangkat—bom asap kecil, alat pengacak sinyal, dan satu pistol kompak yang bisa menembak tepat dari jarak dekat. Alena menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Baiklah… ini hidup lo, Rendi. Gue nggak bakal gagal,” gumamnya pelan. Langkah pertama Ghostline terdengar dari ujung lorong—tiga sosok berseragam hitam, helm tertutup penuh, bergerak seperti bayangan. Mereka menyebar, menutupi setiap pintu keluar. Satu langkah salah, mereka

