Rumah itu tampak berbeda ketika Alena kembali. Lampu-lampu yang biasanya redup kini menyala terang, tapi suasananya tetap sama—dingin, sunyi, dan berjarak. Tidak ada pelayan yang menyambut, tidak ada suara langkah di lorong, hanya gema dari sepatu Rendi dan Alena saat mereka masuk. Rendi berjalan di depan, membuka pintu ruang tamu tanpa berkata apa-apa. Ia tampak lelah, wajahnya pucat, rambutnya berantakan seolah ia belum tidur berhari-hari. Alena berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling. Semuanya masih sama seperti sebelum ia kabur—perabot tertata rapi, foto pernikahan di dinding tetap menggantung di tempat yang sama, dan aroma parfum Rendi samar tercium di udara. Tapi kali ini, rasanya tidak sama. Dulu rumah ini terasa menakutkan karena penuh rahasia, sekarang justru terasa kosong ka

