Bab 16

887 Kata

Malam semakin larut, tapi Alena tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan kotak logam di pangkuannya, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Napasnya pelan, tapi matanya terus menatap jam dinding yang berdetak tanpa henti. Menit demi menit terasa lama, sampai akhirnya waktu menunjukkan lewat tengah malam. Dari luar, suara langkah para penjaga sudah tidak terdengar lagi. Rumah itu benar-benar hening. Ia berdiri perlahan, mengambil senter kecil dari laci dan menyimpannya di saku. Dengan langkah hati-hati, Alena membuka pintu kamar sedikit demi sedikit, memastikan tidak ada orang di lorong. Lampu utama sudah dimatikan, hanya cahaya temaram dari lampu taman yang menembus jendela. Ia berjalan menyusuri koridor panjang menuju tangga. Setiap langkah terasa berat, dan setiap derit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN