Bab 22

1151 Kata

Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang ketika Alena turun dari kamar. Matahari baru naik setengah, sinarnya masuk lembut lewat jendela besar ruang makan. Aroma roti panggang dan kopi memenuhi udara. Ia mendapati Rendi sudah duduk di meja makan, masih mengenakan kemeja kerja tapi dasinya belum terpasang. Arga duduk di sebelahnya, sibuk menggambar di buku kecil. “Pagi,” sapa Alena pelan sambil menuang s**u ke gelas anaknya. “Pagi,” jawab Rendi, menatap istrinya sambil tersenyum tipis. “Kamu tidur nyenyak?” “Lumayan. Cuma agak kebangun tengah malam.” Rendi menatapnya sedikit khawatir. “Masih suka sakit kepala?” “Sedikit, tapi nggak separah dulu.” Alena duduk berseberangan dengannya, lalu menatap Rendi beberapa detik. “Kamu hari ini ke kantor lagi?” “Iya. Tapi cuma setengah hari. S

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN