Bab 5

1515 Kata
Bibi Rukmi menelan ludah pelan, wajahnya tampak makin tegang. Tangannya yang semula terlipat rapi kini meremas sudut celemek yang ia pakai. “Iya, Bu… silakan,” jawabnya, suaranya sedikit bergetar. Alena diam sejenak, mencoba memilih kata. Tapi rasa penasaran yang sudah menumpuk sejak kemarin akhirnya mendorongnya bicara. “Bibi… sebenarnya, aku sama Pak Rendi itu… bahagia, nggak?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi begitu keluar dari mulut Alena, ruangan mendadak terasa hening. Jam dinding di atas meja berdetak pelan, tapi justru membuat suasana makin tegang. Bibi Rukmi terpaku di tempat. Tatapannya langsung menunduk, seolah kata bahagia tadi terlalu berat untuk dijawab. “Bibi?” panggil Alena lagi, pelan tapi jelas. Pelayan itu membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar. Ia menatap sekilas wajah Alena, lalu buru-buru memalingkan pandangan ke arah balkon. “Saya… saya nggak tahu, Bu,” ujarnya akhirnya, dengan nada yang terdengar tidak meyakinkan. “Tidak tahu?” Alena mengerutkan dahi. “Maksud Bibi gimana? Bukannya Bibi tinggal di sini terus? Harusnya Bibi tahu, kan, aku sama Rendi gimana selama ini?” Bibi Rukmi menelan ludah. Ia terlihat panik. “Saya cuma kerja, Bu. Saya jarang ikut campur urusan rumah tangga majikan.” “Tapi Bibi pasti lihat, kan? Kami sering ngobrol, atau jalan bareng, atau… bertengkar?” Bibi Rukmi diam lagi. Napasnya kelihatan memburu. “Saya takut salah ngomong, Bu. Takut nanti Pak Rendi… ehm, salah paham.” Alena memiringkan kepala, suaranya menurun tapi nadanya tegas. “Rendi nyuruh Bibi nggak usah cerita banyak ke aku, ya?” Bibi Rukmi langsung menatap Alena cepat, wajahnya pucat. “Nggak, Bu. Bukan begitu—” “Lalu kenapa Bibi terlihat takut setiap kali aku nanya hal sederhana?” potong Alena. “Aku cuma nanya bahagia atau nggak. Itu aja.” Bibi Rukmi menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk makin dalam. “Maaf, Bu. Saya cuma… nggak enak ngomongin soal itu. Saya pikir… lebih baik Ibu tanya langsung ke Pak Rendi aja.” “Tapi aku pengen tahu dari Bibi. Dari orang yang lihat semuanya di rumah ini.” Pelayan itu mundur setengah langkah. Ia mulai mengalihkan pandangan ke nampan di meja, pura-pura sibuk. “Saya harus beresin ini dulu, Bu. Nanti keburu kering sisa buburnya.” “Bibi Rukmi,” panggil Alena lagi, suaranya sedikit meninggi karena kesal. “Tolong jawab jujur. Aku cuma pengen tahu apa aku bahagia atau nggak waktu itu.” Bibi Rukmi berhenti, tapi tetap tidak berbalik. Bahunya tampak sedikit bergetar. “Saya cuma bisa bilang satu hal, Bu,” katanya pelan tanpa menatap. “Bapak itu orangnya sayang sama Ibu. Tapi… kadang sayang juga bisa bikin orang jadi… susah dimengerti.” Alena menatap punggung wanita itu lekat-lekat. “Maksud Bibi apa?” Tidak ada jawaban. Bibi Rukmi malah menunduk lebih dalam, lalu buru-buru mengambil nampan di meja dan melangkah menuju pintu. “Maaf, Bu. Saya harus lanjut kerja di dapur. Kalau Ibu butuh apa-apa, panggil aja lewat bel, ya.” “Bibi—” Pintu sudah tertutup sebelum Alena sempat melanjutkan. Ruangan kembali sepi. Hanya suara angin dari balkon yang pelan masuk lewat celah tirai. Alena masih duduk di tepi ranjang, menatap pintu yang baru saja ditutup pelayan itu. Jawaban Bibi Rukmi tidak sepenuhnya masuk akal, tapi justru karena itulah yang membuat Alena semakin curiga. Apa maksudnya sayang yang bikin susah dimengerti? Dan kenapa Bibi Rukmi seperti takut bicara tentang Rendi? Alena memandangi rambutnya di cermin. Lembut, rapi, dan wangi—hasil dari tangan Rendi sendiri. Tapi sekarang, setiap kali mengingat betapa lembutnya pria itu tadi, sesuatu di dalam dirinya justru terasa tidak nyaman. Ia menarik napas panjang. Mungkin, pikirnya, sudah waktunya mulai mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. **** Setelah pintu kamar tertutup, Alena masih duduk diam cukup lama. Ia tidak tahu berapa lama sudah memandangi gagang pintu yang tadi ditarik Bibi Rukmi dengan wajah panik. Jawaban yang barusan ia dengar seolah menggantung di udara. “Sayang yang bikin susah dimengerti.” Apa maksudnya itu? Rendi memang terlihat penuh perhatian. Dari menyiapkan air hangat, membantu mengeringkan rambut, sampai menyuapinya makan. Semua dilakukan dengan lembut, tanpa marah, tanpa nada tinggi. Tapi justru itu yang membuat Alena bingung — karena hatinya sama sekali tidak bereaksi. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa nyaman. Hanya kosong. Ia menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang terlipat di pangkuan. Tiga tahun menikah, katanya. Tapi di rumah ini, tidak ada satu pun tanda kehidupan rumah tangga yang hangat. Tidak ada foto berdua di meja rias. Tidak ada pigura kecil di sisi tempat tidur. Hanya satu foto pernikahan besar yang tergantung di ruang tamu — dengan ekspresi datar di wajah mereka berdua, seolah pernikahan itu bukan perayaan, melainkan kewajiban. Semakin dipikirkan, semakin banyak yang terasa aneh. Alena menghela napas panjang, lalu berdiri pelan. Kakinya memang belum sepenuhnya kuat, tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa lemas di tubuhnya. Ia melangkah ke arah pintu, membuka sedikit, dan menengok ke luar. Koridor rumah itu panjang, dindingnya berwarna krem dengan beberapa lukisan pemandangan yang tampak mahal. Semua tampak rapi, bersih, tapi terlalu sunyi. Dari kejauhan terdengar samar bunyi alat pel lantai — mungkin Bibi Rukmi sedang bekerja di dapur atau ruang makan bawah. Alena memutuskan keluar kamar. Ia berjalan perlahan di sepanjang koridor, tangannya sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan. Beberapa pintu lain di sisi kanan dan kiri tampak tertutup rapat. Ia berhenti di depan salah satu pintu yang tampak sedikit berbeda — warnanya lebih tua, dan ada bekas goresan kecil di sisi gagangnya. Alena mencoba memutar knopnya, tapi terkunci. Keningnya berkerut. Pintu ini bukan kamar tamu, karena posisinya terlalu dekat dengan kamar utama. Mungkin dulu ruangan itu punya fungsi penting — tapi kenapa dikunci? Ia mencoba lagi, tapi hasilnya sama. Terkunci rapat. Akhirnya ia mundur beberapa langkah, menatapnya dalam diam. Ada perasaan aneh di dadanya, seperti sesuatu di dalam ruangan itu memanggil ingatannya. Langkah kaki terdengar dari arah bawah. Alena buru-buru berbalik, kembali menuju kamar utama. Ia tak ingin ketahuan sedang berkeliaran, terutama kalau sampai Bibi Rukmi melapor ke Rendi. Begitu masuk kamar, ia langsung menutup pintu perlahan dan duduk di tepi ranjang. Detak jantungnya sedikit lebih cepat, bukan karena lelah, tapi karena rasa penasaran yang belum terjawab. Apa yang sebenarnya disembunyikan di rumah ini? Ia berpikir cukup lama, lalu pandangannya tertuju ke meja kecil di sisi tempat tidur. Di sana ada ponsel — milik Rendi. Ia ingat Rendi sempat meletakkannya di situ sebelum pergi. Layarnya terkunci, tapi rasa ingin tahu Alena membuat tangannya hampir terulur. Ia berhenti di tengah jalan. Tidak. Itu terlalu jauh. Ia menatap ponsel itu lagi, lalu memalingkan wajah. Untuk sekarang, lebih baik tidak macam-macam dulu. Ia belum tahu seperti apa sifat Rendi sebenarnya. Memang pria itu tampak lembut, tapi sikap gugup Bibi Rukmi tadi membuatnya sadar: ada sisi lain dari Rendi yang mungkin belum ia lihat. Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan lembut di pintu. Tok… tok… tok. Alena langsung menoleh. Suaranya pelan, bukan seperti Rendi yang biasanya mengetuk singkat dan langsung masuk. “Bibi Rukmi?” panggilnya ragu. Pintu terbuka sedikit. Benar, pelayan paruh baya itu muncul sambil membawa segelas s**u hangat di atas nampan kecil. “Ini, Bu. s**u buat siang. Kata Pak Rendi, Ibu harus minum sebelum istirahat.” Alena mengangguk pelan. “Terima kasih, Bibi.” Bibi Rukmi menaruh gelas itu di meja, tapi tidak langsung pergi. Ia sempat menatap Alena sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Wajahnya terlihat canggung, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri. “Bibi…” panggil Alena lagi. Pelayan itu membeku. “Iya, Bu?” “Tadi aku lihat ada ruangan di sebelah kamar ini. Yang pintunya dikunci. Itu ruangan apa, ya?” Pertanyaan itu membuat wajah Bibi Rukmi langsung berubah. Tatapannya panik, jemarinya refleks menggenggam nampan lebih kuat. “Itu… gudang, Bu. Cuma tempat nyimpen barang lama.” “Barang lama?” Alena mengulang, nada suaranya datar tapi matanya tajam. “Barang lama seperti apa?” Bibi Rukmi menunduk. “Ya, barang-barang sebelum Ibu kecelakaan dulu. Banyak yang udah nggak dipakai.” “Kenapa dikunci?” Pelayan itu tampak gugup. “Supaya nggak berdebu ke mana-mana, Bu. Lagian cuma barang bekas, nggak ada yang penting.” Alena memperhatikan setiap gerak-gerik Bibi Rukmi. Wanita itu tidak berani menatap langsung, suaranya terdengar terlalu cepat, seolah ingin segera menutup pembicaraan. “Oke,” kata Alena akhirnya. “Tapi nanti aku mau lihat, ya.” Bibi Rukmi mendongak cepat. “Lihat?” “Iya. Kalau itu barang-barangku dulu, aku pengin tahu. Mungkin bisa bantu aku inget sesuatu.” Pelayan itu menggigit bibir bawahnya. “Saya… nggak tahu, Bu. Kuncinya kayaknya dipegang sama Pak Rendi. Saya nggak pernah buka.” “Kalau gitu nanti aku minta ke Rendi.” Bibi Rukmi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu buru-buru berkata, “Saya permisi dulu, Bu. Susunya diminum selagi hangat, ya.” Sebelum Alena sempat menahan, wanita itu sudah keluar dari kamar lagi. Pintu kembali tertutup. Alena menatap gelas s**u di meja, uapnya masih mengepul pelan. Tapi ia tidak langsung menyentuhnya. Pandangannya justru beralih ke arah pintu yang dikunci tadi — ruangan yang disebut gudang itu. Entah kenapa, pikirannya tidak bisa berhenti pada satu hal: kalau memang hanya gudang, kenapa wajah Bibi Rukmi berubah seseram itu saat ia menanyakannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN