Gavriel melihat dari ujung jalan. Loretta menutup kafe, dan melambaikan tangannya pada Stanley. "Tapi, mengapa Loretta tidak berbalik dan berjalan pulang?"
"Dia mengikuti Stanley? Aku tak bisa tinggal diam. Kenapa dia begitu mudah jatuh ke dalam masalah." Gavriel mengeluh dalam batinnya.
Dengan berlari kecil dia mengikuti Loretta tapi tetap dengan menjaga jarak. Dia tak ingin mengejutkannya.
Gavriel berhenti, mengamati wajah Loretta dari kejauhan. Terdengar suara gaduh dan bentakan. Dilihatnya Loretta mulai bergeming dari tempatnya berdiri. Dia ingin berlari menolong anak itu, tepat waktu Gavriel menangkap pergelangan tangannya.
"Jangan Loretta, terlalu berbahaya untukmu."
"Gavriel? Bagaimana kamu tahu, aku di sini? Kau mengikutiku?"
"Sebaiknya kamu pulang. Kita akan bertanya pada Stanley terlebih dahulu dan mengatur strategi berikutnya. Jangan gegabah dengan membahayakan dirimu dan Stanley!"
Akhirnya mereka berjalan beriringan kembali. "Ah, Stanley yang malang."
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Gavriel. Bagaimana kau tahu aku ada di sana?"
"Tentu saja. Aku hendak pulang ketika kau keluar dari kafe dan mengikuti Stanley. Aku rasa kau akan mendapat masalah. Karena itu aku mengikutimu."
"Apakah kau marah?" tanyanya.
Loretta hanya diam. Di kepalanya tersimpan bermacam pertanyaan.
...
Pagi hari di kafe.
"Kak Gina, apakah kau pernah berpikir menyelidiki latar belakang para pegawaimu?" tanya Loretta.
"Tidak Loretta. Bagiku cukup tanda pengenal mereka. Apakah ada masalah?" Gina terkejut dengan pertanyaan Loretta yang tidak seperti biasanya.
"Semalam, aku membuntutinya kak. Sepertinya dia ada masalah. Kita harus membantunya."
"Maksudmu?"
"Sepertinya dia dianiaya oleh pamannya semalam. Aku ingin membantunya ketika," ucapan Loretta berhenti, tiba-tiba ingatannya kembali pada peristiwa itu, peristiwa pada malam yang paling ingin ia lupakan.
'Apakah itu dia? Ah tidak mungkin, dia terlalu baik.' batinnya mengabaikan kecurigaannya.
"Loretta? Ketika apa?" Pertanyaan Gina menyadarkan dia akan lamunannya.
"Gavriel menghentikanku."
"Gavriel? Kau mengajak dia membuntuti Stanley?"
"Tidak. Dia membuntutiku." kata Loretta
"Loretta, sebenarnya telah lama aku ingin mengatakan padamu. Aku merasa kejanggalan pada Gavriel. Seorang pemuda tampan, CEO muda Famous Garment. Mengapa dia menolak gadis cantik seperti Marry dan Susan bahkan dia bisa mengencani gadis cantik manapun. Tapi mengapa dia mengejarmu. Seorang wanita muda yang sedang hamil!"
"Aku rasa kau harus lebih berhati-hati, sayang." kata Gina.
"Benar kak. Aku memang perlu berhati-hati. Tapi saat ini, kita harus menolong Stanley. Benar-benar anak yang malang."
"Baiklah, nanti saat dia datang kita bisa bahas kembali. Sekarang bantu aku dengan ini." Kata Gina sambil memberikan sepiring roti sandwich pesanan. "Tolong antar ke meja 7. Aku akan buat spaghety untuk meja 10."
"Baiklah Gina." Loretta mengangkat nampan dan menunjukkan sederet giginya. Dia tersenyum.
...
"Selamat siang, kak." Stanley tersenyum sambil meletakkan ranselnya dan memasang apron di badannya.
"Hai Stanley. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Loretta.
"Baik kak. Aku baik-baik saja."
"Baiklah. Bolehkah aku sedikit berbicara padamu. Suatu hal yang cukup penting."
"Ya kak,.ada apa?"
"Maaf Stanley, kemarin kakak mengikutimu pulang karena cemas. Tapi begitu kau sampai di rumah, kakak mendengar suara yang keras."
"Eh iya kak. Tak apa. Itu hanya pamanku yang sedang mabuk. Setelah orangtuaku meninggal, aku tinggal di rumah paman."
"Oh, Stanley. Apakah dia sering begitu? Dan apa yang diperbuatnya saat mabuk?" Gina yang mendengar percakapan itu ikut bertanya.
Stanley menunduk, "Dia memukulku. Dia memukulku dengan benda apapun yang ada di dekatnya."
"Apa kau tidak apa-apa tinggal bersamanya?" tanya Gina.
"Tidak apa, kurasa asal aku membawakan uang untuknya membeli minuman, dia tidak akan menyakitiku, kak." Stanley berusaha tersenyum menemangkan kedua wanita di dekatnya.
"Bersemangatlah Stanley. Kau harus kuat, sayang." Gina menghiburnya.
"Pasti kak."
"Ini, Stanley. Bantu aku hantarkan americano pada Gavriel."
Stanley mengakat nampan dan tersenyum, "Baik kak."
"Ah, anak yang manis, dengan nasib yang buruk." Gina berkata perlahan.
Loretta sedang menghantar pesanan ketika Gavriel memberikan kode padanya untuk datang.
"Ada apa Gavriel?
"Terima kasih telah membantuku memilih beberapa design. Ini aku memilih beberapa, tapi aku tak tahu mana yang kau suka." Gavriel mendorong sebuah tas yang terbuat dari kertas daur ulang berisi sesuatu.
"Apa ini?" Loretta langsung membukanya.
"Ah, sungguh lucu sekali. Sepatu mungil untuk kaki si mungil." Loretta tersenyum. "Terimakasih Gavriel."
Gavriel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Bisakah kita bicara selesai kau bekerja?"
"Asal kau betah menunggu lama."
"Jangan cemas. Aku akan menunggu."
...
"Loretta, kita sudah berteman cukup lama. Aku sudah cukup mengenalmu. Dan kurasa kau sudah mengenalku."
"Ya Gavriel. Tentu, kita berteman bukan?", kata Loretta sambil mengaduk karbonaranya.
"Loretta. Apa kau mau jadi kekasihku?"
Tiba-tiba sendok dan garpu terlepas dari pegangan Loretta. "Apa? Apa kau tak salah Gavriel? Atau kau sedang mabuk?"
"Tidak. Aku bertanya padamu sekali lagi nona Loretta Asher. Maukah kau menjadi kekasihku?"
"Tapi, tapi aku sedang hamil, Gavriel. Apakah kau bercanda?"
"Lantas apakah wanita hamil tidak pantas mempunyai kekasih?" Gavriel berdiri, mengambil kuntum mawar dari meja.
"Aku bertanya ketiga kalinya, nona Loretta Asher, apakah kau mau menjadi kekasihku?" Kali ini Gavriel berlutut di depannya dan memberikan sekuntum mawar.
Loretta menjadi sangat malu, seisi restaurant melihat ke arahnya. Beberapa orang mulai bertepuk tangan. Beberapa diantaranya mulai berteriak, "Terima! Terima!"
"Ya aku mau, Gavriel. Cepatlah berdiri." Katanya cepat-cepat. Wajahnya bersemu merah.
Gavriel memegang tangannya dan memasangkan sebuah cincin yang dikeluarkan dari saku jasnya ke jari manisnya. Sebuah cincin dengan permata yang besar. Cantik sekali.
Sementara itu makin riuhlah suara tepuk tangan dari pengunjung restoran.
"Ah, Gavriel. Ini sungguh memalukan." batinnya.
Tapi di hati Gavriel berasa melayang tinggi, bersama irama musik yang paling indah. Ah, ini selangkah lebih maju. Langkah menggapai gadis pujaannya. Cinta pertamanya!
...
Keesokan paginya.
"Kau sudah lihat, berita hari ini?" kata Gilbert Cortier tiba-tiba menyodorkan sebuah tabloid dengan sebuah gambar yang sangat besar bertulis 'Skandal CEO muda Famous'.
"Dia wanita pilihanku ayah."
"Tapi mengapa kau memilih seorang wanita hamil, Gavriel. Apa perlu ayah carikan kau seorang gadis normal?"
"Tidak ayah. Dia adalah pilihanku. Dan aku benar-benar mencintainya. Sama seperti ayah mencintai ibu, dan tetap menjaga hati sampai sekarang walaupun ibu telah tiada!" kata Gavriel tegas.
"Itu sangat berbeda Gavriel. Sangat berbeda. Ibumu gadis biasa, wanita baik-baik yang tidak hamil dengan entah siapa. Jangan kau samakan ibumu dengannya. Sangat tidak pantas."
"Bukankah aku bebas memilih langkahku ayah. Kau sudah berjanji."
"Tapi tidak untuk ini, Gavriel. Skandal seperti ini akan memperburuk citra Cortier!"
"Baiklah, kalau memang citra Cortier lebih penting bagi ayah. Sebaiknya aku lepas nama Cortier pada namaku."
"Gavriel! Jaga kata-katamu." Gilbert semakin marah.
"Karena aku tidak akan melepaskan wanita itu ayah. Tidak akan. Karena wanita itu telah mengandung anakku! Aku tak akan melepaskannya dengan alasan apapun dan sampai kapanpun!"