Sebuah mobil berhenti di depan rumah keluarga Cortier. Amanda berlari membuka pintu. Seorang kurir menyodorkan secarik kertas untuk ditandatangani. Dengan kebingungan dia melihat jenis barang yang akan ia terima. Lalu bergegas mencari tuannya.
"Maaf mengganggu, Tuan. Apakah anda memesan sebuah ranjang bayi?" tanya Amanda.
"Entahlah Amanda. Sepertinya itu pekerjaan Gavriel. Letakkan saja itu di kamarnya."
"Tapi dimana dia? Aku tak melihatnya setelah jam sarapan pagi." tanya Gilbert.
"Dia mengatakan akan pergi melihat proyek pengerjaan pakaian untuk pameran musim semi, tuan."
"Baiklah Amanda. Kau bisa pergi."
"Tuan, tuan muda mengatakan akan membawa kekasihnya kemari untuk makan malam."
"Baiklah Amanda. Kau bisa mempersiapkan semuanya."
"Baiklah Tuan." katanya lalu keluar dan menutup pintu ruang kerjanya secara perlahan.
Setelah menerima pengiriman dari kurir, kepala pengurus rumah tangga itu segera mengurus segala persiapan acara makan malam. Dia memerintahkan beberapa orang untuk mengatur meja dan beberapa untuk mempersiapkan hidangan.
Jam menunjukkan pukul 5 sore ketika Gavriel menjemput Loretta. Hari ini benar-benar hari yang sibuk untuknya, bahkan untuk secangkir americano!
"Apa kau sudah siap?"
"Ya, tapi kau tampak lelah Gavriel."
"Ya, hari ini ada beberapa hal yang harus kubereskan."
"Kau tampak cantik sekali, Loretta." katanya sambil mulai mengemudikan mobil sportnya itu.
"Terima kasih, Gavriel."
Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya. Memikirkan pendapat ayah Gavriel tentang dirinya.
Gavriel merasakan kecemasannya, meraih tangannya dan menggenggamnya. "Jangan cemas, sayang. Aku tak akan pernah meninggalkanmu."
Tak butuh waktu yang lama bagi Gavriel untuk tiba di rumahnya. Dia memarkir mobilnya dan segera membantu Loretta turun dari mobilnya.
Amanda berjalan cepat menyambut tuan mudanya. Membuka pintu dan menyambutnya dengan membungkukkan badannya.
"Selamat datang tuan muda dan nona."
Loretta menunggu di ruang tamu, selama Gavriel membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Dia melihat sekeliling ruangan itu. Sebuah foto keluarga yang cukup besar, tergantung di tembok. Keluarga yang harmonis. Seorang wanita cantik dan suaminya. Tampak wanita cantik itu memangku seorang anak kecil yang tampan. Gavriel kecil!
Di sebuah lemari pajangan, terlihat berderet foto. Loretta bangun dari duduknya. Mengusir kebosanan dengan melihat foto-foto yang terpampang di sana.
Betapa terkejut dia, melihat sosok ibunya tercinta, Diana, berada di antara deretan foto itu. Rasa hangat tiba-tiba muncul di dadanya. Ah, satu lagi relasi dengan ibu.
Sesaat kemudian, dia akan kembali ke sofa ruang tamu, ketika melihat Gilbert Cortier keluar dari ruang kerjanya. Loretta membungkuk memberinya salam.
Gilbert melihatnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. "Apa ini wanita pilihan putraku? Apa benar dia adalah alasan bagi putraku untuk menerima tanggungjawabnya sebagai penerus Famous Garment sebagai ganti kebebasannya?" katanya dalam hati.
Gilbert berjalan, dan duduk sebelum berkata, "Duduklah!"
Loretta duduk di hadapannya.
"Berapa lama kau mengenal Gavriel?"
"Sekitar 6 bulan yang lalu, tuan."
"Ya ayah, sekitar 6 bulan. Mungkin lebih, kurasa aku mengenalnya sudah sangat sangat sangat lama." Gavriel tiba-tiba muncul mengambil alih situasi. Terlihat sangat segar dengan setelan kemeja dan celana jeans panjangnya. Aroma sabun di tubuhnya masih tercium sangat harum.
"Baiklah. Kita langsung makan saja. Aku sudah lapar." kata Gavriel pada ayahnya dan Loretta.
"Apa rencana kalian selanjutnya?" kata Gilbert sambil menyendok soup dari mangkuknya.
"Menikahinya." Gavriel segera menjawabnya.
Kata-kata itu mendapat reaksi dari Loretta yang duduk di sebelahnya, dia menginjak kakinya.
"Baik. Asal kau menyelesaikan acara pameran busana musim semi dengan sukses."
"Tapi ayah. Itu akan berlangsung 3 bulan ke depan,..."
"Maka dari itu. Kau harus fokus. Dan jangan mengecewakan ayah dengan berbagai macam skandal yang akan merusak nama baikmu sendiri."
Loretta menunduk.
"Aku pasti akan membuatnya sukses ayah. Tapi aku tak akan menunggu untuk menikahinya."
Loretta menggenggam tangan Gavriel, "Kita tak perlu terburu-buru, Gavriel."
Mereka melanjutkan makan malam itu dengan tenang. Setelah selesai, Gilbert kembali masuk ke ruang kerjanya.
"Sepertinya ayahmu kurang suka padaku, Gavriel." kata Loretta dalam perjalanan pulangnya.
"Apapun itu, tidak penting. Asal aku mencintaimu, dan kau mencintaiku."
"Aku bisa memahami, dia pasti tak ingin putranya mempunyai hubungan dengan wanita yang tak jelas. Bahkan sedang hamil!"
Beberapa saat mereka terdiam. Menikmati kesibukan di dalam pikirannya masing-masing.
Loretta menghembuskan napasnya dalam-dalam. Dia memegang perutnya yang semakin membesar. Gavriel meliriknya.
"Kenapa? Apa perutmu sakit?"
"Hanya merasa sebuah kaki kecil yang menendang."
"Oh ya? Bolehkah aku memegangnya?" Gavriel sangat antusias. Dia segera memarkir mobilnya di pinggir jalan.
Kemudian mulai memegang perut Loretta. "Mana, ayo tendang lagi," katanya.
Loretta tertawa melihat tingkah Gavriel. Tak lama kemudian bayi di perutnya menendang. Betapa Gavriel melonjak kegirangan.
"Wow, aku merasakannya. Iya. Dia menendangku." Gavriel tertawa kegirangan.
Tiba-tiba Loretta bergidik, ingatannya kembali pada malam yang paling ingin dia lupakan. Apakah Gavriel adalah orang itu? Mengapa dia mau pada seorang wanuta hamil yang bahkan tak tahu siapa yang menghamilinya? Mengapa dia peduli? Apakah dia benar-benar mencintainya?
Gavriel melihat perubahan raut wajahnya. "Ada apa Loretta? Apa kau merasa tendangannya lagi?"
"Tidak Gavriel. Sebaiknya kita pulang."
Gavriel memang memacu kembali mobilnya. Tapi tidak untuk pulang. Dia membawanya ke atas bukit yang tinggi dan memarkir mobilnya.
Bintang-bintang bertaburan di langit yang cerah. Pemandangan yang sangat cantik.
"Loretta, menikahlah denganku." katanya.
Loretta terdiam. Begitu banyak hal yang menghantui pikirannya. Tentang bayinya yang akan segera lahir, tentang bagaimana dia akan membesarkan bayi itu, juga tentang ayah Gavriel yang tak menyukainya.
Tentu saja, mana mungkin ada orang tua yang memperbolehkan putranya menikahi gadis hamil yang tidak mengetahui siapa ayahnya.
"Loretta, kau melamun." Gavriel menyentuh ujung hidungnya. Lalu ia menggenggam tangannya. Memainkan jari jemari lentiknya.
"Jangan kau pikirkan tentang ayahku. Aku akan menyelesaikannya. Dan kita akan menikah." katanya membaca kerisauan hatinya.
"Aku berjanji. Aku akan membereskannya."
...
Seminggu kemudian, di hari yang sibuk.
Pengunjung sangat ramai saat seorang laki-laki dengan tubuh yang besar datang. Laki-laki itu terlihat mabuk.
"Eugina, kembalikan keponakanku! Stanley, kau dimana Stanley! Stanley, keluarlah nak. Paman menunggumu! Stanley Adams! Apa kau mau menyusul kedua orangtuamu! Keluarlah!"
Laki-laki mabuk itu membanting botol yang dipegangnya. Dan keributan yang ditimbulkannya tentu saja menimbulkan banyak perhatian dari sekitar.
Loretta saat itu sedang sendirian. Bahkan Gina dan Stanley tak ada di sampingnya. Yang dipikirkannya hanya menelpon pada Gavriel! Dia butuh bantuan.
"Tolong aku. Laki-laki mabuk. Menyerang kafe. Aku sendirian. Dan ..." Setelah itu dia merasakan perutnya menjadi nyeri, kaku dan ada air mengalir diantara kakinya. Loretta meletakkan teleponnya dan mulai mengatur napasnya.
"Loretta, Loretta!! Bertahanlah. Aku segera tiba!"