Bab 32

1501 Kata
"Maksud kakak apa?" Luna yang baru selesai mandi bingung ketika mendengar kata-kata yang dikatakan oleh Bastian. "Kakak masih punya cuti 2 hari kedepan jadi kakak mau pergi berlibur sama kamu sambil pergi ke makam ibu kamu. Selama ini kakak belum pernah mengucapkan terima kasih sama ibu kamu karena sudah menyelamatkan aku saat itu. Jadi mumpung aku lagi libur aku mau pergi ke makam ibu kamu. Gimana menurut kamu sayang?" tanya Bastian yang duduk di tepi ranjang. Luna sempat kaget karena tiba-tiba Bastian mengajaknya ke makam sang ibu. Sebenarnya Luna memang sudah lama tak pergi ke makam sang ibu karena jaraknya yang lumayan jauh dan ia tak bisa libur kerja dalam waktu yang lama. "Sayang gimana?" tanya Bastian lagi. Luna pun berjalan mendekat kearah Bastian untuk menjawab pertanyaan dari Bastian. "Kakak yakin gak masalah datang ke makam ibu. Kalau aku senang saja kakak mau ke makam ibu karena aku juga sudah sejak lama aku ingin ke makam ibu tapi masih belum punya kesempatan," jawab Luna yang mau saja ketika Bastian ingin pergi ke makam sang ibu. "Ok besok pagi-pagi kita berangkat kesana. Dan sekalian kita bisa berlibur sebentar sebelum Minggu depan jadwal operasi kakak akan padat dan gak bisa menghabiskan waktu bersama dengan kamu lebih lama lagi," kata Bastian yang sudah menarik tubuh Luna semakin dekat kearahnya. "Ya udah kalau gitu aku siapkan baju buat besok," kata Luna yang akan beranjak dari dekat Bastian. Ketika Luna mau beranjak pergi tiba-tiba sudah menarik tangan Luna agar tak pergi jauh dari dirinya. "Sayang I want you now," pinta Bastian dengan suara yang serak. Luna yang tahu ekspresi yang ditunjukkan adalah tanda bahaya baginya pun sekarang berusaha melepaskan diri dari Bastian. Tapi seperti biasa kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Bastian. Hingga lagi-lagi Luna harus menghadapi sikap m***m dari calon suaminya itu. Karena dia selalu saja kalah dengan segala sentuhan dari Bastian hingga mereka pun kembali melewati malam-malam panas seperti malam-malam sebelumnya. Sementara itu Paula baru saja transit di Dubai sebelum ia akhirnya akan terbang lagi ke Indonesia. Jujur saja ini kali pertama dirinya melakukan penerbangan seorand diri dan dalam jarak waktu yang lama. Ada rasa takut yang Paula rasakan tapi lagi-lagi ia menepis semua rasa takut itu dengan mengingat alasannya kabur dari rumah dan pergi ke Indonesia. Alasannya adalah ingin bertemu dengan laki-laki yang ia cintai dan mencegah pernikahan yang terjadi diantara laki-lak yang ia cintai dengan wanita lain. Paula meminum kopi yang baru saja ia beli dengan perlahan. Masih ada waktu satu jam kedepan bagi Paula sebelum ia harus kembali terbang menuju Indonesia. Rasa lelah sudah Paula rasakan karena perjalanan kali ini sangat panjang dan lama. Tapi lagi-lagi ia menyingkirkan semua rasa lelah itu dengan mengingat tujuannya melakukan semua ini. Dan ketika ia sedang perlahan meminum kopi tiba-tiba suaranya ponselnya berbunyi. Dan nama sang Daddy tertera disana. Ada sedikit rasa ragu di hati Paula untuk mengangkat telepon itu. Karena ia tahu jika sang Daddy dan mommynya pasti sudah tahu jika ia tidak ada dirumah. Dan Paula juga yakin jika sang Daddy tahu dimana dia berada saat ini. Tapi percuma saja sembunyi dari sang Daddy karena sang Daddy pasti tahu semuanya. "Halo," kata Paula ketika mengangkat teleponnya. "Paula kamu baik-baik saja sekarang?" tanya Carlos ketika sang putri mengangkat teleponnya. "Aku baik-baik saja. Sorry dad, aku pergi dari rumah. Aku punya alasan kenapa aku melakukan hal ini," kata Paula yang sudah mulai membuka pembicaraan. Suasana pun hening sejenak sebelum akhirnya Carlos membuka suaranya. "Dadddy tahu kamu pergi kemana saat ini. Kamu pergi untuk menemui Bastian kan?" tanya Carlos lagi. "Iya dad aku mau menemui kak Bastian. Aku mau bertemu dengan kak Bastian dan mengungkapkan perasaan aku kepada kak Bastian. Aku yakin jika aku sudah mengatakannya kak Bastian pasti tak jadi menikah dengan wanita itu. Karena aku tahu jika kak Bastian juga memiliki perasaan yang sama dengan aku," kata Paula dengan penuh percaya diri. "Hahhhhh...." Hanya helaan suara nafas yang terdengar di sambungan telepon itu. Carlos tahu jika percuma menjelaskan kepada putrinya jika Bastian tak akan pernah membalas perasaannya kepada Paula. Karena Bastian sendiri mengatakan kepada dirinya jika ia tak akan menikahi wanita lain selain wanita yang saat ini sudah menjadi calon istrinya. Tapi Carlos akan membiarkan Paula mencari tahu sendiri. Lebih baik Paula mendengar secara langsung dari mulut Bastian jika Bastian tak bisa memilihnya. "Daddy sudah menjelaskan kepada kamu bahwa Bastian sudah memiliki calon istri. Tapi jika kamu mau mencari tahu sendiri apakah yang Daddy katakan tentang Bastian itu benar atau salah maka Daddy akan membiarkan kamu sendiri. Yang pasti Daddy sudah memberitahu semuanya sama kamu jadi jangan marah jika apa yang kamu dengarkan dari Bastian tidak sesuai apa yang kamu inginkan," kata Carlos mencoba memberikan beberapa nasihatnya. "Daddy gak usah khawatir kak Bastian pasti juga memiliki perasaan yang sama dengan aku dan aku pastikan kak Bastian akan menjadi suami aku," kata Paula penuh ambisi. Carlos lagi-lagi hanya bisa diam mendengarkan kata-kata ambisius yang dikatakan oleh Paula. Ia tahu jika putrinya Paula ini memiliki sifat yang hampir mirip dengan dirinya. Sama-sama keras kepala dan penuh ambisi. Jadi Carlos akan membiarkan terlebih dahulu apapun yang Paula lakukan tapi tetap dari jauh ia akan terus mengawasi Paula. "Dad aku tutup telepnnya dulu. Pesawat aku mau terbang lagi. Titip salam buat mommy. Dan bilang kalau aku baik-baik aja. Jadi mommy gak perlu khawatir," kata Paula sebelum akhirnya menutup telepon. Paula pun langsung menutup telepon dari sang Daddy. Ia sudah terlalu malas menerima telepon dari sang Daddy hingga membuat dirinya kesal. Ia pikir sang Daddy akan mendukung dirinya untuk bisa mendapatkan Bastian. Tapi sang Daddy malah mengatakan hal-hal yang menurut daddynya akan mengurungkan niatnya untuk mengurungkan niatnya untuk menemui dan mendapatkan Bastian hanya untuk dirinya saja. Dan Paula pun memilih untuk tak menggubris apapun yang sang Daddy lakukan. Tak berapa lama pesawat yang akan membawanya ke Indonesia pun akan berangkat sehingga membuat Paula harus bersiap untuk masuk ke pesawat. "Sayang ayolah gak usah pasang muka judes dan kesel kayak gitu. Kita kan mau liburan jadi kita akan bersenang-senang. Jadi kamu gak usah pasang ekspresi yang seperti itu," bujuk Bastian yang melihat wanita yang duduk di sampingnya. Luna gak kesal gimana ketika hampir semalaman ia harus melayani kemesuman laki-laki yang ada di sebelahnya itu. Ia tak habis pikir kenapa ada laki-laki yang bisa memiliki kemesuman yang diatas rata-rata. Kenapa sifat laki-laki di sebelahnya ini sangat berbeda ketika ia sudah kembali ke profesi awalnya sebagai seorang dokter. "Kakak bisa gak sih gak m***m sama aku dalam sehari aja. Badan aku capek harus melayani sifat m***m kakak yang berlebihan," kata Luna sebal. Bastian sendiri tak tahu kenapa ketika ia berdekatan dengan Luna ia selalu saja tak bisa menahan dirinya untuk menyentuh Luna. Ia selalu merasa tak puas jika hanya sebentar melakukannya dengan Luna. Ia mau lagi, lagi, dan lagi. "Sayang sebenarnya kamu pakai sihir apa sehingga membuat aku tak pernah bisa jauh-jauh dari kamu? Bahkan aku gak bisa berjauhan dengan kamu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan aku?" tanya Bastian yang mengelus pipi Luna. Luna mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan yang disampaikan oleh Bastian. "Maksud kakak apa? Aku gak tahu apa yang kakak bicarakan?" tanya Luna yang bingung mendengar pertanyaan dari Bastian. "Aku gak habis pikir ketika berdekatan dengan kamu rasanya ingin melakukan hal itu terus menerus. Seakan-akan ada magnet yang membuat aku tak bisa jauh-jauh dari kamu. Jadi sayang kamu harus maklum jika aku sering meminta kamu untuk melakukan hal itu terus. Anggap aja ini sebagai ajang kita bisa segera memiliki anak. Kamu mau kan punya anak sama aku kan sayang?" tanya Bastian penuh serius. Luna sempat kaget mendengar kata-kata yang dikatakan oleh Bastian. Selama ini mereka sering melakukan hubungan intim tapi untung saja sampai detik ini ia belum hamil juga. Tapi tak tahu di masa depannya nanti mungkin saja ia akan hamil. Tapi Luna memang memimpikan untuk memiliki keluarga sendiri. Ia sangat ingin menjadi seorang ibu. Apakah ia benar-benar menginginkan memiliki anak dari Bastian. Luna kembali menatap kearah Bastian. Dan ia melihat ekspresi serius di wajah Bastian. Dan entah kenapa Luna yakin jika Bastian bisa menjadi sosok suami dan ayah yang baik untuk dirinya. "Aku sangat menyukai anak kecil dan juga ingin menjadi seorang ibu. Tapi nanti setelah benar-benar menjadi seorang istri. Aku gak mau hamil sebelum menikah. Jadi aku harap kakak bisa mengerti dengan apa yang aku inginkan." Luna pun menatap kearah Bastian. "Cuppp...." Bastian mengecup bibir Luna lembut sehingga Luna bisa merasakan bagaimana rasa cinta yang Bastian tunjukkan kepada dirinya. "Kita akan menikah sebentar lagi dan kita bangun keluarga kecil kita sendiri. Aku ingin setelah ini tak merasa kesepian lagi karena sudah ada kamu di samping aku. Selain itu akan ada anak-anak kita yang akan membuat rumah kita menjadi lebih meriah. Kakak selalu janji sama kamu kalau akan selalu memberikan banyak cinta buat kamu dan memaafkan hidup kamu bahagia," janji Bastian dengan tulus. Refleks Luna pun langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Bastian. Luna yakin jika Bastian akan menempati kata-katanya. Dan Luna pun akan menyerahkan hidupnya kepada seorang Sebastian Philip. Wah Luna udah punya perasaan sama Bastian nih? Gimana reaksi Bastian dengan kedatangan Paula?? See you next chapter.... Happy reading......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN