"Da…ddy…, sakit." Dinda merintih menahan sakit saat Bram menghentakkan pinggulnya dengan kasar membuat area sensitif nya Dinda terasa sakit ngilu dan panas. Bram tidak memperdulikan rintihan tangis Dinda, Bram benar-benar menutup telinga dan matahati nya, Dinda melihat Bram sudah seperti orang lain yang tidak pernah Dinda kenal sebelumnya. Bram menekan dan mendorongnya begitu dalam dan menyemburkan cairan kental di rahim Dinda hingga memenuhi rahim Dinda. Bram tetap mendiamkan pusakanya tetap dalam Vagi Dinda agar tidak ada cairan yang tumpah. Setelah beberapa menit Bram tidak mengeluarkan benda pusaka dari inti Dinda, Bram mulai melepaskan dan berdiri, Bram meraih tas Dinda yang sempat Dinda lempar di sisi ranjang, Bram mengambil tas itu dan menumpahkan semua isinya. Setelah Bram menemuka

