Badan Aletta mendadak jadi kaku saat dia melihat siapa yang datang. Pandangannya penuh kewaspadaan sekaligus memancarkan rasa tidak sukanya tanpa ragu. Kepala Aletta makin berdenyut. Dia tidak mengerti kenapa Sarah sampai mau menemuinya di kamar ini. Jujur, Aletta sedang tidak ingin beradu mulut dengan siapa pun saat ini. Sarah yang sengaja datang ke kamar Aletta untuk mengantar makan malam pada wanita yang selalu dia anggap penghancur mimpinya itu, berjalan mendekat sambil membawa nampan. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, sambil menyodorkan makanan itu ke Aletta. Sarah memaksa untuk menarik garis senyum si bibirnya. Dia mencoba sekuat tenaga, meski yang keluar hanya senyum tipis. Mata Aletta menyipit. “Ngapain kamu ke sini?” tanya Aletta dengan nada tidak suka. “Mau anterin makana

