SI CANTIK DARI TUJUH TAHUN LALU

1073 Kata
Gadis itu menatapnya dengan galak. Lingga membalas tatapannya tak berkedip. Ia tidak tahu harus berkata apa tapi tak gentar menghadapi si cantik secara langsung. Apa yang harus aku ucapkan? “Jawab pertanyaanku,” ucapnya lagi lagi dengan galak dan bernada keras. Lingga menahan senyumnya. Si cantik ini boleh juga. Akhirnya ia memutuskan untuk bicara apa adanya. “Aku bukan stalker, hanya… Mmm.. Pengagum, penggemar,” ucapnya. Gadis itu mengerutkan keningnya, “Pengagum? Penggemar? Aku bukan selebrita. Hentikan kelakuanmu. Jangan membuatku kesal.” “Kalau aku pergi dan kamu masih mengikutiku, maka…” Ia menatap Lingga sambil melotot. “Maka… Aku akan menghubungi polisi.” Lingga mengatupkan bibirnya menahan senyum. Aku tahu kamu marah, tapi kenapa kamu menggemaskan? So cute… Lingga memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, “Aku tidak akan mengikutimu lagi, tapi…” Ia menyodorkan gawai miliknya, “Aku minta nomor dan namamu. Apa bisa kamu simpan di ponselku?” “Nama dan nomorku itu sangat pribadi. Tidak untuk orang asing sepertimu,” gadis itu menggelengkan kepalanya. “Jadi, jangan mengikutiku lagi. Dan, tidak ada syarat apapun untuk melakukannya. “Aku pergi dulu.” Ia bergerak mundur sambil menunjuk ke arah Lingga, “Tidak bergerak satu senti meter pun. “DIAM DI TEMPAT.” Lingga menggaruk rambutnya, “Aku orang baik, bukan stalker yang hobi mengikuti gadis cantik.” “Semua stalker pasti merasa dirinya orang baik,” gadis itu menggeleng. “Mana ada orang jahat mengaku jahat? Jangan bicara omong kosong.” “Ah…” Lingga kehabisan kata kata. Gadis itu terus berjalan mundur sambil melotot ke arah Lingga. Ia kemudian berteriak, “Jangan ikuti aku…” “Diam di tempat. Satu langkah pun aku hitung sebagai pergerakan yang layak membuatku menghubungi kepolisian,” ucapnya galak. Dengan terpaksa, Lingga hanya mematung. Kakinya seperti melekat ke lantai rumah sakit dan tidak bisa bergeser satu senti meter pun. Matanya terus menatap kepergian gadis cantik yang dikaguminya. Ia berlari dan menghilang dengan cepat. Lingga menyeringai. Matanya menatap ada CCTV tak jauh dari posisinya berdiri. Jangan kamu pikir aku berhenti di sini. Mulai hari ini, segala upaya akan dikerahkan untuk mencari tahu mengenaimu. >>> Lingga tersadar. Ia menarik nafas panjang mengingat gadis cantik dari tujuh tahun lalu itu. Segala upaya yang dilakukannya seperti sia sia, Lingga tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya tahun demi tahun berlalu. Sepertinya… Memang aku harus mulai untuk move on. Perintah ayah ada baiknya juga. Aku tidak bisa selamanya sendiri. Usiaku sekarang sudah tiga puluh lima tahun. Bahkan tahun depan, aku sudah berencana untuk pensiun jadi pembalap. Ok, baiklah kita datang ke gala amal tersebut. Lingga keluar dari ‘garasi’ nya lalu berjalan ke kamar tidurnya yang berukuran luas. Mungkin kalau dibandingkan setara dengan satu unit apartemen tipe studio. Ia membuka buka lemari di ruang gantinya dan mencari kostum yang tepat untuk dikenakan di masquerade party nanti. “Jas ini mungkin bisa aku gunakan,” Lingga menyimpannya di atas sofa panjang di ruangan tersebut. Ia juga kemudian menarik satu laci di tengah lemari. Ada satu topeng putih dengan aksen keemasan untuk dikenakannya. Ok… Memang sepertinya, ini waktunya aku move on. Lupakan masa lalu.. >>> Luhung Mahapraja langsung bangkit dari kursinya menyambut kedatangan Cakra Atmaja. “Bagaimana?” tanyanya sumringah. “Dengan ancaman, Lingga menyerah,” jawab Cakra Atmaja. “Baguslah. Dia tidak bisa selamanya sendiri,” Luhung tertawa terbahak bahak. “Apalagi mau pensiun dari balap. Setidaknya anak itu tidak sesibuk sebelumnya. Jadi, mau tidak mau, harus meluangkan waktu untuk memberikanku cucu sebagai penerus semua usahaku ini. “Aku tidak mau rumor yang berkembang itu menjadi kenyataan. Dia harus dipaksa.” Luhung menggelengkan kepalanya, “Anak laki lakiku tidak mungkin seorang penyuka sesama jenis. Dia harus memberikanku keturunan dengan darah Mahapraja.” Cakra tersenyum, “Lingga normal. Dia penyuka lawan jenis. Kita sama sama tahu itu. “Meski tidak serius, tapi beberapa kali kita memergokinya bersama perempuan.” “Ya… Ya, aku tahu. Tapi rumor itu membuatku cemas,” Luhung menghela nafas. “Laksmi juga membuatku panik. Dia terus menerus berkeluh kesah, lama kelamaan otakku terpengaruh." Laksmi yang disebut oleh Luhung adalah istrinya. Ibu kandung dari Lingga, Laksmi Pitaloka paling mencemaskan putranya yang tidak kunjung memiliki calon istri. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk mencarikan pasangan serius untuk anak satu satunya tersebut. Berbulan bulan, Laksmi mengamati putri dari kenalan dan juga relasinya. Ia mencari yang terbaik dari yang terbaik. Sampai terpilihlah tiga orang perempuan. Laksmi menerima informasi kalau ketiga orang perempuan tersebut akan hadir dalam masquerade party charity gala. Itu sebabnya, ia langsung membeli kursi undangan agar anaknya bisa hadir. “Yang pasti, Lingga sudah menyerah. Dia bilang akan datang…” ucap Cakra menyadarkan Luhung dari lamunan. “Bagus. Tapi anak itu… Aku tidak bisa sepenuhnya percaya. Awasi dia,” Luhung memberikan perintahnya. “Baik,” Cakra mengiyakan. Luhung mengetuk ngetuk jari jemarinya ke meja kerja. Ia sangat mengharapkan putranya bisa segera menemukan jodohnya. >>> Lingga menemui sahabatnya Mardi Diwangkara. “Bro,” Mardi memeluknya. “Seriously, kamu pensiun?” “Yes, satu musim lagi dan kemudian off…” jawabnya. “Aku harus berhenti di puncak karir.” “Agenmu sudah tahu? Kenapa wartawan belum mengendus beritanya?” tanya Mardhi lagi. “Sudah. Masih rahasia. Kalau sampai tersebar ke media massa, berarti kamu yang menyebarkan,” Lingga menahan senyumnya. “Ini menyeramkan,” Mardhi tergelak. “Ah sudahlah. Aku menemuimu karena ingin tahu sesuatu…” Lingga kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berisi nama tiga orang perempuan. “Ini…” ia menyimpannya di atas meja agar Mardhi bisa membacanya. “Apa ini?” Mardhi mengambil kertas tersebut. “Isinya nama nama perempuan.” Ia membacanya, “Lanaya Isvara, Larasati Adelia, Lituhayu Kayshila. Siapa mereka?” “Ahh.. Kamu tidak mengenalnya?” Lingga kecewa. “Aku tidak kenal. Nama nama itu asing,” jawab Mardhi sambil mengerutkan keningnya. “Memang kenapa?” “Ayah memintaku berkenalan dengan perempuan perempuan itu dan memilih salah satunya untuk menjadi istriku,” terang Lingga. Mardhi langsung tertawa, “Absurd. Ada apa dengan Om Luhung? Sudah tidak zamannya lagi ada perjodohan…” Lingga menarik nafas panjang, “Aku menyerah dan memilih mengikuti keinginannya. Karena… “Aku pikir harus move on dari peristiwa tujuh tahun lalu.” Lingga diam. Mardhi ikut terdiam. Ia tahu cerita masa lalu sahabatnya dan mengerti kegundahannya. “Aku pikir, why not?” ucap Lingga lagi. “Menyenangkan orangtuaku sekaligus… Mmm… Aku harus melanjutkan hidupku…” “Just try it, bro… You never know…” Mardhi menyemangatinya. “Yes… Kamu benar. We never know…” gumam Lingga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN