Pram melangkah masuk ke dalam lift meski matanya melirik diam diam ke arah Banyu. Kenapa lagi lagi aku berpapasan dengannya? Aku dan Jelita seperti terus terkait satu sama lain. Apa yang terjadi dalam hubungan kalian? Pram merenung di dalam lift sambil memikirkan yang dilihatnya tadi. Lelaki itu tidak terbaca ekspresinya. Apa dia jahat atau baik? Sungguh tidak tertebak. Pintu lift terbuka, Pram melangkah ke kamar hotelnya. Ia melompat ke kasur dan berbaring dengan mata terbuka. Kalau aku jadi Jelita, perceraian yang tiba tiba pasti akan selalu menjadi tanda tanya. Kamu sabar sekali menerima semuanya tanpa perlawanan. Sementara, lelaki itu sudah memiliki perempuan lain dan bahkan seorang bayi mungil. Ah, aku terus menerus memikirkan Jelita. Lebih baik keluar kamar saja

