Banyu mengenang semuanya dengan perasaan tak menentu. Bayangan Jelita akhir akhir ini semakin sering hadir dalam benak pikirannya. "Aku tidak pernah seperti ini," ia menatap foto mantan istrinya dan membelainya secara perlahan. "Aku tidak bisa melupakanmu. "Apa kamu baik baik saja?" Banyu terus menerus menatap foto mantan istrinya itu. Matanya kemudian terpejam menahan rasa sesak di dadanya. Bibirnya terkatup rapat menahan luapan emosi yang membuncah di dalam dirinya. Banyu kemudian mengambil gelas di atas mejanya dan melemparkannya dengan keras ke arah tembok. PRAAANG... Pecahan kaca dari gelas berhamburan di lantai. Ia tertunduk. Kedua tangannya menahan bobot tubuhnya ke meja. "Aku... Aku ingin melihatmu..." Banyu tak lagi bisa menahan gejolak rasa di dirinya. Se

