Sudah seminggu berlalu sejak operasi Ibu Ratna selesai. Aditya masih ingat jelas malam itu — malam ketika ia berlari di lorong rumah sakit, menandatangani beberapa berkas dengan tangan gemetar, dan menunggu berjam-jam di depan ruang operasi sambil menggenggam rosario kecil milik Naura. Ia tidak pernah lupa bagaimana gadis itu menangis di pelukannya, memohon agar ibunya bisa diselamatkan. Tapi yang tidak ia pahami sekarang adalah... mengapa setelah semuanya selesai, Naura malah menghilang. Hari ini, kedai kopi miliknya terasa sepi. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Aditya masih duduk di kursi pojok sambil menatap ponsel yang tak kunjung berdering. Layar menampilkan nama Naura di daftar panggilan terakhir—tertulis “tidak dijawab”. Sudah lima kali ia mencoba, tapi hasilnya

