Sore menjelang ketika mobil hitam yang ditumpangi Naura berhenti di halaman depan rumah besar itu. Matahari sudah condong ke barat, dan langit mulai memerah di ujung cakrawala. Jam di dasbor menunjukkan pukul setengah enam sore, satu setengah jam lebih lambat dari waktu yang Ethan tentukan. Naura menatap layar ponselnya — sudah ada tiga panggilan tak terjawab dari Ethan. Dadanya terasa menegang. Ia menutup mata sebentar, berusaha mengatur napas sebelum keluar dari mobil. Brian, sopir yang dikirim Ethan, turun lebih dulu dan membuka pintu belakang. “Kita sudah sampai, Nona,” katanya datar. Naura menatapnya sejenak, kemudian mengangguk kecil. “Terima kasih, Brian.” Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. Begitu ia melangkah masuk ke rumah, udara di dalam terasa berbeda. Senyap, tapi

