Restoran itu masih ramai sore itu, tapi bagi Naura, suasananya seperti tercekik. Piring di depannya sudah dingin, tapi ia belum menyentuhnya. Dari tadi ia menatap pintu masuk, menunggu sosok yang membuat perutnya mual karena tegang. Ethan. Ia tahu, pertemuan kali ini bukan hal biasa. Setelah setuju dengan kontrak itu beberapa hari lalu, Ethan bilang ia ingin memperkenalkannya pada seseorang — “orang penting,” katanya. Naura sudah bisa menebak siapa. Mobil hitam berhenti di depan restoran. Naura spontan duduk tegak. Ethan turun, mengenakan kemeja hitam dan jas abu, langkahnya tenang, wajahnya serius. Satu hal yang selalu sama dari pria itu: auranya membuat orang lain enggan menentang. Ethan membuka pintu restoran, matanya langsung menemukan Naura di sudut ruangan. Ia berjalan mendekat,

