sikap Aziel

1358 Kata

Jovanka meregangkan jari-jarinya yang terasa pegal. Dua tumpuk kertas tebal di atas meja membuatnya mengerang kesal. Itu karena tumpukan sebelah kiri lebih sedikit dibanding yang kanan. Itu artinya, pekerjaannya sangat jauh dari kata selesai. “Kenapa berhenti? Lanjut, dong. Kamu mau sampe besok di sini terus?” Hampir saja Jovanka mengumpat, kalau tak ingat yang barusan meledeknya itu adalah Pak Lukman –sang Kepala Sekolah tercinta. Jadinya cewek itu hanya bisa cemberut sambil menghentakkan kakinya kesal ke lantai. “Siapa suruh kamu berani nantangin Pak Heru? Kumisnya hampir rontok semua, tuh, gara-gara kelakuan kamu yang bikin sakit kepala.” “Tinggal dikasih pupuk biar tumbuh lagi.” “Jovanka ....” sahut Pak Lukman gemas. Jovanka membuang muka, lalu melanjutkan pekerjaannya. Mengeca

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN