Tama dan Dina masih berpelukan di hadapan Dika. "Kalian duduklah di sofa sana, kakek ingin istirahat" kata Dika lirih. Tama dan Dina beranjak dari kursi mereka, lalu duduk bersisian di atas sofa. "Maafkan Dina ya, Bang, tidak menjawab telpon, dan pesan Abang, Dina pikir akan kuat tidak bertemu Abang, tapi Dina jadi menangis terus karena rindu sama Abang." Dina melingkarkan kedua lengannya di tubuh Tama. Kepalanya bersandar di d**a Tama. "Aku juga sangat merindukanmu, Aunty, aku tidak enak makan, tidak enak tidur, tidak fokus bekerja juga, tapi apa yang bisa kita lakukan, kita hanya harus bersabar menunggu waktu yang dua tahun itu." "Abang akan sabar menunggu Dina kan?" "Ya, aku sudah menunggumu beberapa tahun, Aunty, ditambah dua tahun lagi tidak masalah bagiku" "Abang ... hiks ...