“Dasar dosen pembohong!” Maki Savannah. Setelah pameran malam itu, ia belum bertemu dengan Danish lagi. Baik di dalam kelas, maupun di luar kelas. Meski begitu, Savannah bersyukur karena ia tak harus menghujat setiap melihat pria itu. Saat ini, ia tengah duduk di taman mini yang berada di depan perpustakaan. Duduk merenung sendirian karena ia tak tahu harus menghabiskan waktu di mana sebelum mata kuliah selanjutnya dimulai. “Harusnya aku menolak saja waktu itu kalau tahu dia benar-benar hanya memberiku harapan palsu. Dasar aku!” Rutuk Savannah. “Ini bahkan bukan permasalahan antara hati ke hati, tapi rasanya sakit sekali” Ucap Savannah dramatis seraya mengelus dadanya. “Tapi, kenapa dia bersikeras tidak mau memberikan nilai A pada mahasiswanya? Apa alasan sebenarnya? Seingatku, Tia bi

