SATU DARI DUA

1130 Kata

Sena tidak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk menarik tubuhnya dari pelukan Daka. "Aku tidak bisa cerita," Sena mengangkat wajahnya dan mencoba tersenyum. "Kenapa?" Daka bertanya dengan hati hati. Ia tidak mau terkesan memaksa. Sena tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Lupakan yang kamu lihat hari ini." Daka terdiam, "Jangan membuatku sedih. Kamu menangis begini, rasanya aku jadi ingin ikut menangis." Sena menonjok bagian atas lengan Daka, "Menangis saja sana! Coba, aku ingin lihat kamu menangis." "Aku perlu waktu untuk pendalaman," Daka tergelak. "Lakukan dan menangis di hadapanku. Sepertinya dengan melihatmu berurai air mata, bisa membuatku tertawa," Sena tersenyum lebar. Sesaat ia melupakan kesedihannya. Daka kembali tertawa, "Sulit. Saat ini sulit. Nanti aku kabar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN