Airin terbangun dari tidurnya saat matahari sudah naik. Sepertinya dia melewatkan waktu sarapan dan teman-temannya, mengingat itu lantas dia terduduk. “Selamat siang putri tidur,” sapa suara bariton itu. Kepalanya menoleh ke arah sofa di mana pria itu duduk dan memandangnya. “Kenapa Om gak bangunin aku?” tanyanya seraya menyisir rambut panjangnya ke belakang. Arkan menelan ludahnya memandangi gadis itu, lalu beranjak berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah ranjang. Pria itu duduk di pinggiran ranjang, masih menatap lekat gadis yang tidak mengenakan apa pun di tubuhnya. Sepertinya Airin tidak sadar kalau telah mempertontonkan tubuh polosnya di hadapan pria itu. Tatapan mata mereka bertemu, Airin masih menunggu jawaban dari pria itu yang membiarkan dirinya harus bangun telat.