PROLOG
“Saat matahari mencair ke dalam lautan, aku jatuh cinta kepadamu sekali lagi, Kyori Andrea Will you marry me?” ucap lelaki bertubuh atletis bernama Keinand Sagara kepada wanita cantik bernama Kyori Andrea.
Mata Kyori terlihat berkaca-kaca, air mata yang enggan jatuh pun membanjiri kelopak mata yang sangat indah itu. Bukan tanpa sebab, Kyo seakan melihat sosok ayah kandungnya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia akibat kecelakaan naas sesaat setelah mengantar Kyori untuk bekerja.
Dan semenjak Ayahnya meninggal, Kyori hanya hidup seorang diri. Ia menelan semua keluh kesahnya seorang diri, ia pun berusaha mengobati satu persatu luka akibat kehilangan orang-orang tercintanya.
Malam itu, Keinand yang sering disapa Kei itu mencoba melamar pujaan hatinya. Selama beberapa bulan ini, mereka sudah begitu akrab menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Walaupun baru sebentar hati Kei sudah begitu yakin memilih Kyo untuk menjadi pelabuhan terakhirnya. Namun saat Kei berulang mengucap “Will you marry me?” Sosok Ananta yang tak lain adalah Ibu kandung Kei menghentikan acara tersebut. Semua sahabat Kyo begitupun Kei terkejut atas kedatangan Ibu kandung Kei yang terlihat menatap sini ke arah mereka berdua.
“Hentikan! Aku tidak sudi memiliki menantu seperti wanita ini.” Ucapnya sembari menunjuk kasar Kyori, Kyori terdiam, ia tak mampu mengatakan apapun.
Melihat hal itu Kei pun menghampiri Ibu kandungnya itu, “Kenapa mam? Kenapa Mama selalu saja tidak mendukung ku. Kenapa Mama selalu mengacaukan kebahagiaan ku.” Ananta kembali menatap wajah anaknya, sesuatu hal yang ada di dalam benaknya seakan ingin ia luapkan segera. Namun ia menahan hal itu, Ia mengusap wajah Kei. Ia berusaha meyakinkan Kei bahwa ia hanya ingin yang terbaik untuk Kei, anak lelaki satu satunya itu.
“Sayang, tolong dengar apa yang Mama katakan. Tolong jangan kamu nikahi wanita ini. Wanita ini tidak memiliki keluarga yang utuh. Wanita ini hanya seorang diri, dia tidak jelas asal usul nya” ucap Ananta.
Kei menggelengkan kepalanya, “Justru karena itu Kei ingin menikahi Kyori Mam, Kei sangat mencintainya.”
“Tidak!! Tidak boleh. Mama tidak setuju,” tegasnya menolak apa yang di inginkan oleh Keinand anaknya.
Ananta kembali menatap wajah Kyori, begitupun Kyori yang kali ini berani menatap wajah wanita tua yang memiliki sikap yang begitu keras.
“Lihatlah Kei, dia berani menatap sarkas ke arah Mama yang jelas-jelas tidak menyukai dirinya.” Kei tetap berdiri tegak tanpa menghiraukan aduan Ananta. Ananta yang menyadari hal itupun kembali menatap wajah anaknya, ia tarik wajah anaknya itu dengan menggunakan kedua tangan nya. Ia menatap lekat wajah Keinand Sagara, “Lihat Mama Kei, sekali lagi Mama bilang. Mama tidak akan pernah membiarkan kamu menikahi wanita itu! Ingat itu.”
“Acaranya sudah selesai, Kalian bubar sekarang!” Teriak Ananta dan satu persatu sahabat Kei juga Kyo terlihat meninggalkan Cafe tersebut.
Air mata Kyori menetes, ia begitu merasa sakit hati atas perlakuan Ananta calon Ibu mertuanya itu. Dan Kei yang terlihat ditarik oleh Ananta pun tak dapat mengatakan apapun. Ia juga meninggalkan Kyori seorang diri berdiri diatas panggung mini tanpa ada yang menemani.
“Apalagi ini Papa, kenapa nasib buruk selalu menimpa ku. Andai Papa masih ada disini, mungkin mereka tidak bisa menyakiti ku. Lagi dan lagi aku kalah Papa, lagi dan lagi aku ingin menyerah. Aku ingin ikut dengan mu Papa. Hanya kamu yang mengerti semua kegelisahan ku.” Kyori mengucap lirih di dalam hatinya, kali ini air matanya sudah membanjiri wajah cantik nya.
Kyori terlihat menatap lekat cincin yang terlihat tersimpan di atas meja di mana Kei menyimpan nya, ia berjalan menghampiri meja tersebut lalu mengambil cincin itu. Ia menggenggam nya, ia menatap sekeliling cafe yang mulai sudah senyap dan sepi. Tak lupa ia juga menghapus sisa sisa air mata miliknya.
Lalu ia berucap, “Papa, aku akan dapatkan Kei. Aku akan membuat Ananta mengakui semuanya. Aku akan membuat wanita itu bersimpuh di hadapan ku dan meminta maaf kepadaku! Aku yakin Kei akan lebih memilih ku dibanding wanita tua itu!” Matanya penuh amarah, keringat dingin mulai membasahi kening nya.
Ada dendam yang tak bisa dijelaskan dari cara ia menatap sekeliling di mana ia tetap berdiri, d**a nya mengembang tak biasa seakan menahan rasa sesak di d**a. Teringat jelas wajah mendiang ayahnya saat mengatakan siapa orang yang dengan tega mencelakai dirinya, dan hal itu terekam jelas di dalam memori ingatan Kyori.
Beberapa saat kemudian Kyori memilih untuk menyudahi kekesalan nya itu, Seorang karyawan kafe menghampiri dirinya.
“Mbak Kyori, maaf apa ini sudah selesai saja?”
“Sudah mbak, saya mau pulang lagian acara yang dibuat pacar saya hancur.”
“saya ikut menyesali semua yang sudah terjadi ya mbak Kyo.” Timpal karyawan kafe tersebut.
Kyori berusaha tersenyum, Kyori pun bergegas menghampiri meja yang sebelumnya ia duduki. Tas kecil beserta karangan bunga indah yang sebelumnya Kei berikan ia ambil dengan langkah yang payah, ia berjalan sedikit demi sedikit meninggalkan kafe tersebut.
Ponselnya yang berdering di dalam tas pun sama sekali tak ia hiraukan, tak ada sahabat satupun yang menemani kegelisahan Kyori malam ini, ia benar benar menikmati kesedihan atas apa yang ia alami hanyalah seorang diri.
“Mbak Kyo” panggil karyawan kembali. Langkah kaki Kyori berhenti sejenak lalu menoleh ke arah suara karyawan tersebut.
“Pak Kei menghubungi kami dan meminta anda jangan pulang dulu. Ia akan segera datang beberapa saat lagi.” Ucapnya dengan suara yang terdengar lantang, namun Kyori hanya menatap kosong dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
“Mbak Kyo” panggil nya lagi dan lagi, namun Kyori tetap tak menghiraukan nya.
“Halo pak, mbak kyo tetap pergi. Ia Sekarang udah masuk ke dalam taksi.” Ucap salah satu karyawan tersebut sembari menatap lekat kepergian wanita berambut panjang dengan langkah kaki yang kacau.