45 : Tak Tersisa

1949 Kata

Murka, Dara menghampiri kebersamaan di hadapannya. “Sah, sah, kepalamu!” tegasnya yang sampai menggunakan tas di pundak kanannya untuk menghantam kepala Dinda. Ia melakukannya sekuat tenaga hingga wanita berpenampilan syari tersebut oleng, berakhir terbanting ke lantai dalam keadaan meringkuk. Tak hanya tubuh Dinda yang terbanting karena kepala wanita kurus itu juga lebih dulu mengalaminya. Kepala Dinda menghantam lantai dalam keadaan miring. Rintih sakit langsung keluar dari mulut Dinda dan terdengar sangat menyakitkan di telinga semuanya, termasuk telinga Dinda sendiri. “Ya ampun, ... enggak sopan banget kamu! Jahat, kasar banget, enggak punya hati!” tegur nyonya Anggita tak terima dan langsung mencoba menolong Dinda, merengkuhnya penuh kepedulian. “Enggak sopan, jahat, kasar, enggak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN