Penolakan itu tidak berbunyi keras. Tidak ada pintu dibanting dan tidak ada teriakan. Justru karena itu, Bramasta runtuh. Inari begitu kuat mendorongnya pergi. Rahasia yang coba dikuburnya, entah bagaimana naik ke permukaan tanpa permisi. Dia mencoba memberikan penjelasan, tapi Inari tidak mau mendengarnya. Dia bahkan mengabaikan Raisa demi Inari, tetapi wanita itu menyuruhnya pergi tanpa memandangnya sama sekali. Hatinya sedih memikirkan betapa Inari seperti tidak lagi menginginkannya lagi. Bramasta meninggalkan rumah Inari dengan langkah goyah, seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah pulang. Udara Malang terasa lebih dingin dari biasanya. Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil, dadanya sesak seolah ada sesuatu yang terlepas dari tempatnya. Inari tidak mengejarnya, ti

