Bab 32 Sesal

1240 Kata

Inari terbangun lebih dulu. Kesadarannya mengikuti setelah dia membuka mata. Cahaya pagi menyelinap tipis dari sela tirai, jatuh di lantai kamar yang masih menyimpan sisa kehangatan semalam. Udara terasa pengap, bukan karena suhu, melainkan karena kesadaran yang perlahan kembali. Untuk sesaat, ia bisa lupa di mana ia berada. Lupa tentang keputusan yang sudah dibuatnya. Lupa tentang koper di depan pintu. Lupa tentang dunia yang dengan susah payah ia bangun kembali, bata demi bata, setelah runtuh karena kenyataan yang menghantam. Sekarang, begitu ia menoleh. Bramasta ada di sampingnya. Lelaki itu tidur dengan wajah tenang, napasnya teratur, alisnya tidak berkerut sedikit pun seolah hidupnya baik-baik saja. Seolah semalam hanyalah malam biasa. Bukan malam ketika dua orang dewasa memilih unt

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN