Logika Melawan Insting.

1042 Kata

Jafran melemparkan kunci mobil ke meja dan segera menuju ruang kerjanya. Dia harus mengubah rasa sakit pengkhianatan menjadi senjata. Dia harus mulai mencari tahu celah hukum Nicholas Arsen. ​Dia membuka laptopnya, tetapi matanya terus tertuju pada kursi kulit di depannya—kursi tempat Zumena pernah duduk, tertawa, dan menangis. Pikirannya dipenuhi dengan kepingan-kepingan memori dari masa lalu Zumena yang baru ia dengar: transaksi, bukan pernikahan; sandera demi yayasan; Ayah yang ketakutan. "​Aku bodoh karena mempercayainya. Tapi aku benar karena tidak meninggalkannya. Dia adalah korban yang mencari kebebasan. Nicholas adalah monster. Aku tidak bisa membiarkan monster itu menang, lagi pula aku sudah membunuh reputasiku di mata Ibuku dengan membatalkan acara Hari Minggu. Sekarang, kehanc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN