Pesan terakhir itu adalah palu godam. Zumena menolak keberanian Jafran untuk mendekat. Dia memaksakan jarak yang Jafran sendiri sarankan. Jafran bersandar di kursi kafe. Dia telah kembali ke logika; Zumena yang sekarang memegang obor gairah dan risiko. Jafran sekarang yang harus menahan diri, yang harus mendengarkan logika, sementara Zumena berjuang sendirian di medan perang emosional. Dia telah gagal membawanya pergi. Dia telah gagal menjadi hero yang hadir. Jafran meraih cangkir kopinya yang dingin. “Aku hanya ingin seseorang yang berani membawaku pergi.” Kata-kata itu tidak hilang. Kata-kata itu kini mengakar di hati Jafran. Dia tidak bisa pergi. Dia tidak bisa mundur. Dia harus meluncurkan perang ini, tidak hanya untuk melindungi Zumena, tetapi juga untuk membuktikan pada Zum

