Kata-kata Zumena menggantung di udara pagi, dingin dan tajam seperti pecahan kaca: “Aku adalah Istrinya. Aku sudah menikah.” Jafran menarik tangannya dari pelukan Zumena. Bukan dengan hentakan kasar, melainkan dengan gerakan yang perlahan dan fatalistik, seolah-olah dia sedang melepaskan nyawanya sendiri. Wajahnya, yang beberapa detik lalu dipenuhi gairah dan kasih sayang, kini menjadi topeng beku. Dia tidak berteriak. Keheningan Jafran jauh lebih mematikan. Zumena melihat perubahan itu. Dia tahu bahwa gairah telah berakhir, dan kini, hanya ada konsekuensi. Dia menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut, air mata kembali menggenang. Jafran bangkit dari tempat tidur. Dia berdiri, telanjang, tetapi d******i dan amarahnya terasa lebih dingin daripada suhu ruangan. Dia berjalan ke jen

