Kemarahan dan Pengkhianatan.

1144 Kata

​Kata-kata Zumena menggantung di udara pagi, dingin dan tajam seperti pecahan kaca: “Aku adalah Istrinya. Aku sudah menikah.” ​Jafran menarik tangannya dari pelukan Zumena. Bukan dengan hentakan kasar, melainkan dengan gerakan yang perlahan dan fatalistik, seolah-olah dia sedang melepaskan nyawanya sendiri. Wajahnya, yang beberapa detik lalu dipenuhi gairah dan kasih sayang, kini menjadi topeng beku. ​Dia tidak berteriak. Keheningan Jafran jauh lebih mematikan. ​Zumena melihat perubahan itu. Dia tahu bahwa gairah telah berakhir, dan kini, hanya ada konsekuensi. Dia menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut, air mata kembali menggenang. ​Jafran bangkit dari tempat tidur. Dia berdiri, telanjang, tetapi d******i dan amarahnya terasa lebih dingin daripada suhu ruangan. Dia berjalan ke jen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN