Seperti perkataannya pagi tadi, Kenzio akhirnya menjemput Sheina untuk makan siang di sebuah restoran Itali. Restoran itu terasa megah dengan langit-langit tinggi dan interior vintage yang unik. Sepanjang mata memandang, hanya ada keindahan dan kenyamanan. Berbagai menu telah terhidang, membuat Sheina yang tak pernah menyantap makan restoran mewah seperti itu berdecak kagum dalam hati. Liurnya rasanya sudah berkumpul, tak sabar untuk menikmati hidangan lezat itu. Seperti biasa, Kenzio memperlakukan Sheina dengan penuh perhatian. Ia melayani Sheina dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya. Sambil menyantap makanan, keduanya berbincang. Membahas apa saja yang sekiranya membuat mereka semakin dekat. "Bagaimana? Enak?" tanya Kenzio sambil menyeka mulutnya dengan serbet bersih yang meman