“Mom bilang kalau ia tidak punya waktu untuk keluar kota dan tiket ke Huntington Beach cukup mahal,” jelas Michael.
Aku menghela nafas sejenak dan berusaha untuk tidak kecewa dengan ibuku, “oke kalau gitu, mungkin mom emang sibuk. Aku juga udah gak apa – apa sekarang.”
Chris tiba – tiba keluar dari kamar. Saat ini aku tidak melihat kebencian dari tatapan Michael kepada Chris lagi, tidak seperti dulu yang selalu emosi ketika melihat laki – laki itu.
“Kok kamu udah gak emosi lagi kalau ngeliat Chris?” tanyaku kepada Michael.
Michael duduk di pinggir tempat tidur, “karena dia yang udah donorin darahnya untuk kamu. Kemarin kamu kehilangan banyak darah, untung saja ada Chris yang golongan darahnya sama dengan kamu.”
“Oh, aku baru tau kalau golongan darahnya sama denganku,” kataku.
Michael mengelus kepalaku dan memberi ciuman tepat di keningku, “kalau kamu gak ada di dunia ini, aku gak tau lagi harus jalani hidup aku kayak gimana.”
Aku membelai rahang tegas Michael dengan lembut, “tapi kan buktinya aku masih di sini, apalagi tuhan ngasih keajaiban. Kamu gak usah mikirin yang aneh – aneh. Aku ada di sini kok, aku masih hidup,” balasku.
“Iya, aku senang kamu selamat dari kecelakaan itu. Sekarang sebutin apa aja yang kamu mau, aku bakal turutin semuanya,” ujar Michael.
“Hmm, aku mau donat coklat deh, boleh gak?” tanyaku sambil menatap Michael dengan manja.
Michael memegang daguku, “ya jelas boleh dong, kamu gak perlu nanya lagi pasti aku beliin.”
“Kalau gitu aku ke bakery dulu, beliin donat dan kue yang kamu suka. Terus kamu mau apa lagi?” tanya Michael.
“Udah, aku mau itu aja dulu.” Jawabku.
“Oke, aku pergi dulu ya,” pamit Michael dan tidak lupa untuk mencium keningku sebelum ia keluar dari kamar.
Beberapa menit setelah Michael pergi, Chris masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ranjang, “gimana keadaan kamu? Udah baikan?” tanya Chris penuh kekhawatiran.
“Iya, udah baikan kok. Ngomong – ngomong, makasih ya udah mau donor darahnya untuk aku,” ucapku.
Chris terlihat lelah, kantung matanya tampak hitam. Dengan tatapan sayunya ia menatapku, “iya sama – sama. Mau gimana pun juga kan kamu itu temanku.”
Aku tersenyum, “tapi aku gak mau dengan hubungan pertemanan kita malah mengganggu hubungan kamu dengan Anny.”
Chris menunduk, “aku dan Anny udah gak ada hubungan apa – apa lagi.”
Aku sedikit menegakkan badanku, “loh kenapa?” tanyaku penasaran.
“Karena dia sudah tau semuanya, dan aku juga gak bisa menjalankan hubungan yang gak ada perasaan cinta,” jawab Chris.
“Kamu pasti bakalan bisa jatuh cinta ke perempuan lain,” kataku.
Dengan nafas yang terdengar berat, Chris menghela nafas, “aku gak tau, mungkin liat nanti aja.”
Tidak lama kemudian Michael membuka pintu dan masuk ke dalam kamar membawa 2 box donat dan 2 box cheese cake, “ini donatnya dan cheese cake kesukaan kamu.”
Michael menaruh semua makanan yang ia bawa di atas meja dan membawakan aku 2 donat coklat yang di sajikan di piring kecil, “ini buat kamu.”
“Thank you Michael,” ucapku kepada Michael.
Michael melirik Chris sekilas, “kalau lu mau ambil aja,” ujar Michael.
“Iya,” jawab Chris singkat.
Lagi – lagi kami di tempatkan pada situasi canggung seperti ini, aku merasa tidak nyaman dengan kesunyian ruangan ini.
“Donatnya enak, coba deh kalian makan,” ucapku memecahkan kesunyian.
Michael dan Chris dengan terpaksa mengambil donat tersebut dan memakannya.
Aku sedikit senang melihat mereka yang sudah mulai menghilangkan keegoisan mereka masing – masing.
***
Beberapa hari setelah aku mengalami kecelakaan, aku akhirnya sudah boleh pulang ke rumah. Aku dan Michael pulang ke rumah kami, sedangkan Chris dengan besar hati ikut mengantarku.
Ini adalah kedua kalinya aku melihat Chris dan Michael tidak berdebat sedikit pun. Mereka terlihat akur sejak aku mengalami kecelakaan, mungkin mereka tidak mau hal buruk terjadi lagi.
“Siang ini kamu mau makan apa?” tanya Michael sambil melihatku lewat kaca spion tengah.
“Aku mau pizza sih, udah lama gak makan pizza,” jawabku.
“Serius pizza aja? Gak mau yang lain?” tanya Michael lagi.
“Enggak, aku cuma mau pizza sekarang.” Balasku.
Chris duduk di bangku penumpang depan tepat di samping Michael. Tidak ada satupun dari mereka yang mulai berbicara duluan, mereka hanya diam dalam keadaan canggung.
Perjalanan menuju rumah lebih lama dari biasanya karena lalu lintas yang sedang tidak ramah. Banyak pejalan kaki yang memadatkan jalanan.
“Kok tumben di sini ramai ya,” ujarku seraya memperhatikan jalanan dari jendela.
“Hari ini ada festival di pantai dekat rumah kamu,” balas Chris.
“Festival ya. Hmm, jadi mau ke sana,” kataku, lalu aku memangku wajahku.
“Kamu belum bisa ke sana, kan kamu masih dalam masa pemulihan,” ujar Michael seraya tersenyum lewat spion tengah mobil.
Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang, kami telah sampai di rumah. Aku berjalan ke dalam rumah dengan pelan – pelan karena kakiku belum bisa bejalan dengan lancar seperti sebelumnya.
Lalu tanpa sengaja aku tersandung, dengan sigap Chris langsung menahan bahuku agar aku tidak terjatuh, “hati – hati dong jalannya,” ucap Chris khawatir.
Aku menatapnya sejenak, tampak rasa cemas terpancar dengan jelas di matanya, “iya, thanks ya.”
Michael memegang lengan kiriku seperti tidak mau kalah dengan Chris, “ayo masuk ke dalam.”
Sesampai nya di dalam rumah, Michael mengantarkan aku sampai ke kamar kami. Ia membaringkan aku di tempat tidur dan meninggalkan kecupan di keningku.
“Kamu istirahat ya, jangan sampai kamu kelelahan lagi. Ingat kondisi kesehatan kamu sekarang butuh di jaga maksimal, apalagi kehamilan kamu,” tutur Michael.
“Iya, kamu tenang aja. Aku pasti istirahat dan bakalan nurut sama kamu,” balasku dengan senyuman.
Michael pergi meninggalkan kamar. Aku jadi penasaran dengan apa saja yang akan dibicarakannya dengan Chris. Aku tidak ingin ada keributan lagi, walaupun aku tau bahwa aku salah satu penyebab pertengkaran mereka berdua.
Aku memejamkan mataku untuk istirahat sejenak. Tapi perutku tiba – tiba merasakan lapar yang mengangguku. Aku beranjak dari tempat tidur dan turun ke lantai satu. Aku melihat Michael yang sedang berbincang dengan Chris.
“Kalian lagi ngobrol soal apa?” tanyaku tiba – tiba dengan mereka berdua.
Mereka berdua langsung menoleh ke belakang, “eh, kamu kok ke bawah?” tanya Michael.
“Aku gak bisa tidur,” jawabku.