Harga

1411 Kata
Hana menatap pemandangan di ruang makan itu dengan binar mata yang tetap ia jaga agar terlihat naif. Di sana, seorang pria asing yang mungkin seumuran dengan Richard, duduk begitu dekat dengan Clarissa. Mereka berbagi piring, sesekali pria itu mengusap sudut bibir Clarissa dengan ibu jarinya, sebuah gestur intim yang dilakukan tepat di depan mata Richard. Richard sendiri tampak tidak terusik. Ia tetap tenang memotong steak setengah matangnya, sesekali menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet. Tidak ada kilat cemburu, tidak ada ketegangan maskulin yang meledak. Hanya ada kekosongan emosi yang sangat mahal harganya. Hana benar-benar tidak salah pilih mangsa. Jika ia terjebak dengan pria lain, mungkin saat ini ia sudah dilabrak, diseret keluar rumah, atau hidup dalam ketakutan setiap hari. Tapi di mansion megah ini, moralitas adalah barang antik yang sudah lama dibuang ke gudang. Hana hanya perlu memainkan perannya, menjadi pelayan yang patuh, pengasuh yang tulus, dan pemuas nafsu yang pasrah. Satu tahun. Berdasarkan risetnya pada wanita-wanita Richard sebelumnya, itu adalah waktu rata-rata sebelum Richard memberikan cek dalam jumlah fantastis dan memintanya pergi. "Hana! Aku mau bermain denganmu setelah sarapan! Boleh kan?" suara cempreng Galendra memecah lamunannya. Bocah itu mengunyah sereal dengan semangat yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Hana capek, Boy. Biarkan dia beristirahat. Kamu kan ada home schooling hari ini. Gurumu sebentar lagi datang!" Richard menyela, suaranya berat dan posesif, matanya sempat melirik leher Hana yang tertutup syal tinggi, tempat ia meninggalkan jejak-jejak panas semalam. "Papa, aku tidak bicara denganmu!" Gale melipat tangan di d**a, merajuk. "Biarkan saja jika dia mau bermain! Hana akan menemaninya!" Clarissa menyahut dengan nada tajam yang penuh sindiran. Ia merebahkan kepalanya di pundak Sanders, kekasihnya, sambil membiarkan jemari pria itu bermain di rambutnya. "Dia itu rakus sekali, Sanders. Berbagi cinta dengan anak saja tidak mau." Richard terkekeh hambar, meletakkan pisau peraknya dengan denting yang cukup keras. "Bagaimana kalau Gale bermain dengan Sanders saja? Kamu tidak mau main kuda-kudaan lagi dengan Om? Naik ke punggungnya?" "Kamu kok bawa-bawa Sanders?!" Clarissa berteriak, wajahnya mengeras di balik polesan makeup mahalnya. "Lihat, Boy. Mama tidak mau berbagi cinta denganmu!" Richard membalas dengan seringai dingin, sengaja memprovokasi istrinya di depan kekasih simpanan wanita itu. "Tapi aku maunya main dengan Hana!" mata Gale mulai memerah, bibirnya bergetar siap meledakkan tangis yang bisa meruntuhkan ketenangan pagi itu. "Baiklah, Sayang! Aku akan menemanimu." Hana segera membelai puncak kepala Gale, memberikan senyum paling tulus yang ia miliki. Sentuhannya menenangkan, membuat Gale seketika luluh. Clarissa terkekeh sinis melihat adegan itu. Ia bangkit berdiri, membiarkan Sanders mengekor di belakangnya seperti anjing peliharaan. Saat melewati kursi Hana, Clarissa berhenti sejenak. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga Hana bisa mencium aroma parfum niche yang menyengat. "Pelayan yang baik!" lirih Clarissa tepat di samping telinga Hana, suaranya sangat rendah hingga hanya mereka berdua yang dengar. "Ingat yang aku katakan kemarin. Kamu boleh mengambil perhatian Gale, bercinta dengan suamiku sepuasmu! Asal kamu tahu diri! Jangan pernah bermimpi mengambil posisi nyonya dariku. Karena mahkota ini tidak dijual untuk pelayan sepertimu." Hana hanya mematung, menundukkan kepala dalam-dalam seolah ia sangat ketakutan. Padahal, di balik poni rambutnya yang menutupi wajah, mata Hana berkilat tajam. "Aku tidak menginginkan mahkotamu yang berkarat itu, Clarissa!" batin Hana dingin. "Aku hanya menginginkan sebagian isi brankas di bawah singgasanamu lalu pergi." ***** "Kue buatanmu sangat enak, Hana!" Galendra berseru riang, mulutnya belepotan cokelat saat ia mengunyah potongan besar kue di tangannya. Ia mengapung santai di kolam renang menggunakan pelampung bebek kuningnya, menendang-nendang air hingga menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan sinar matahari Roma. Anak itu tertawa lepas, sebuah pemandangan langka. Biasanya, hidup Gale diatur oleh jadwal home schooling yang kaku, pelayan yang hanya bicara seperlunya, dan ibu yang lebih peduli pada warna kuku kaki daripada tawa putranya. Apalagi sejak bayi ia telah diperlihatkan pacar orang tuanya yang bergonta-ganti seperti kaos kakinya. Di tepi kolam, Richard duduk di kursi santai dengan laptop yang masih menyala di pangkuannya. Namun, fokusnya sudah lama teralih. Ia mengamati Hana yang duduk di pinggiran kolam dengan kaki tercelup ke dalam air, mengenakan pakaian sederhana yang kini sedikit basah karena cipratan Gale. Richard mengernyit dalam diam. Biasanya, polanya selalu sama. Dia membawa wanita baru, mereka akan bercinta setiap detik, lalu wanitanya akan mulai meminta tas Hermes, perhiasan Cartier, atau apartemen di Milan. Tapi Hana? Meski Richard sudah mengirimkan uang dalam jumlah fantastis ke rekeningnya sebagai bonus malam pertama mereka, Hana sama sekali tidak bereaksi. Gadis itu tidak memuja-muja kekayaannya, tidak minta belanja, bahkan tidak menuntut perlakuan khusus. Padahal Richard tahu, ia telah mengambil hal paling berharga dari gadis itu di atas bus malam itu. Secara logika, Hana punya kartu as untuk memerasnya, tapi ia justru terlihat sibuk membuat kue cokelat dan tertawa bersama Gale. Richard meraih satu potongan kue cokelat dari piring di meja sampingnya, lalu menggigitnya. Alisnya terangkat. Rasa manis yang pas, tekstur yang lembut, dan aroma mentega yang premium. Ia mengangguk-angguk kecil, pantas saja putranya yang pemilih itu makan dengan lahap. "Hana, aku suka sekali denganmu!" Gale tiba-tiba berenang mendekat dan memeluk lengan Hana dengan manja. "Papa, bisakah Hana tinggal dengan kita selamanya? Bisakah dia menjadi ibuku saja?" Suasana di sekitar kolam mendadak senyap. Pertanyaan polos Gale bagaikan bom yang meledak di tengah keheningan. Hana tersedak ludahnya sendiri, ia terbatuk kecil seraya menggelengkan kepala dengan kaku. "Sayang... itu, itu tidak mungkin. Aku hanya pengasuhmu, Gale. Nyonya Clarissa adalah ibumu! Ibu yang begitu luar biasa!" ucap Hana dengan nada yang terdengar tulus sekaligus rendah hati, seolah ia sadar diri akan kastanya. Di kursinya, Richard perlahan menutup laptopnya. Matanya yang tajam mengunci wajah Hana yang tampak memerah karena malu atau mungkin panik. Dia menolak? Richard merasa egonya sedikit terusik. Di saat wanita-wanita lain di luar sana rela melakukan apa pun, bahkan mencoba menghasut dan mendekati Galendra demi bisa duduk di kursi nyonya rumah, Hana justru memberikan penolakan mentah-mentah pada permintaan Galendra. Apakah Hana benar-benar tidak tertarik pada kekuasaannya? Richard bangkit berdiri, melepaskan kacamata bacanya, lalu berjalan mendekat ke tepi kolam. Ia berdiri tepat di belakang Hana, bayangan tubuhnya yang besar menutupi gadis itu. "Kenapa tidak mungkin, Hana?" suara Richard berat, sarat akan intimidasi yang sensual. "Jika putraku menginginkannya, dan aku menginginkannya... apa yang menurutmu tidak mungkin?" Hana menoleh sedikit, menatap Richard dengan mata bulatnya yang seolah-olah dipenuhi ketakutan yang polos. Richard tidak tahu bahwa dalam hati Hana, ia sedang bersorak. Penolakan adalah umpan terbaik bagi pria yang merasa bisa membeli dunia. Semakin kamu menjauh, semakin Richard akan merasa tertantang untuk menjeratmu lebih kencang. "Bukankah memang tidak mungkin?" Hana menjawab santai, nada suaranya datar seolah ia sedang membicarakan cuaca, bukan posisi sebagai nyonya di mansion Roma. "Saat Tuan bosan nanti, aku akan segera menyingkir dan digantikan. Bukankah begitu prosedurnya?" Jawaban itu menghantam ego Richard dengan telak. Ia merasa ditolak, direndahkan, seolah kehadirannya hanya dianggap sebagai fase sementara yang membosankan bagi Hana. Belum sempat Richard membalas, seorang pelayan muncul di ambang pintu area kolam renang. "Tuan! Guru Tuan Galendra sudah datang!" teriak pelayan itu, yang segera membawa Galendra keluar dari kolam untuk bersiap. Begitu Galendra menjauh, Richard langsung menyambar lengan Hana, menariknya masuk ke dalam pelukan posesif yang menyesakkan. "Kamu menolakku? Kamu bicara seolah-olah kamu sudah tidak sabar ingin aku membuangmu?" bisiknya dengan nada geram, matanya berkilat berbahaya. "Itu fakta, Tuan," Hana mendorong d**a tegap Richard yang masih basah dengan tangan mungilnya. "Tuan, bisakah aku istirahat sebentar hari ini? Aku sungguh lelah. Semalam... kita melakukannya sampai subuh tanpa henti." Richard tertawa hambar, sebuah suara yang penuh ketidakpercayaan. Hana adalah satu-satunya wanita yang berani mengeluh capek dan meminta waktu istirahat darinya. Benar-benar wanita paling lancang yang pernah ia temui. "Pilih, Hana!" Richard berbisik tepat di depan bibirnya, memberikan tekanan yang mengintimidasi. "Kita melakukannya sekarang, seharian penuh di kamar ini, atau nanti malam kamu harus lembur menemaniku sampai pagi lagi." Hana menatapnya sejenak, lalu dengan gerakan cepat ia melepaskan diri dan bangkit berdiri. "Nanti malam!" jawabnya pendek tanpa ragu, lalu segera berlari kecil meninggalkan Richard yang masih mematung di pinggir kolam. Richard berdiri terpaku, menatap punggung Hana yang menjauh dengan perasaan campur aduk antara amarah dan gairah yang tak terkendali. Sungguh? Richard, sang penguasa bisnis yang ditakuti di Roma, baru saja ditolak mentah-mentah demi waktu tidur siang? Hana masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di sana, napasnya memburu, namun senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya. Richard sudah terpancing. Dengan cara ini, Richard tidak akan membuangnya dalam waktu dekat! Justru dia akan melakukan segala cara untuk membuat Hana berlutut dan memohon agar tetap tinggal. "Permainan dimulai, Richard!' batin Hana sambil mengusap bibirnya. "Semakin kamu mengejarku, semakin mahal harga yang harus kamu bayar untuk memilikiku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN