Pintu ganda setinggi tiga meter itu terbuka dengan dentuman berat, menyebarkan aroma sandalwood dan lilin aromaterapi mahal yang menyesakkan. Namun, kemewahan interior di dalam mansion Roma itu pecah oleh lengkingan tangis seorang balita yang menggema di setiap sudut aula marmer.
Hana melangkah masuk dengan kaki yang masih terasa lemas dan bergetar. Syal kasmir melilit lehernya, menyembunyikan jejak-jejak kemerahan dari malam panas di bus tadi. Di sampingnya, Richard berjalan dengan keangkuhan seorang raja, tangannya tetap bertengger posesif di pinggang Hana, seolah memastikan semua orang di rumah itu tahu siapa pemilik baru gadis ini.
Di tengah aula, suasana tampak kacau. Tiga orang pelayan berseragam rapi tampak panik. Satu orang menyodorkan botol s**u perak, yang lain menggoyangkan mainan kristal Swarovski, namun sang anak, putra mahkota keluarga itu, justru semakin histeris. Ia menendang, mencakar, dan melempar apa pun yang mendekatinya.
"Aku tidak mau! Pergilah kamu!"
"Tuan! Maafkan kami, Tuan Muda tidak mau berhenti menangis sejak tadi pagi!" salah satu pelayan membungkuk dalam, tubuhnya gemetar ketakutan melihat kilat amarah di mata Richard.
Richard mendengus kasar. Matanya menyapu ruangan dan berhenti pada sosok wanita yang duduk dengan tenang di sofa velvet merah di sudut ruangan yang lebih terang.
Clarissa. Wanita berusia 39 tahun itu sama sekali tidak terganggu oleh kebisingan putranya. Wajahnya tertutup lapisan masker lumpur hijau yang tebal dan kaku, hanya menyisakan celah sempit untuk matanya yang tajam dan dingin. Di kakinya, seorang terapis kuku sedang berlutut, dengan telaten mengikir kuku kakinya, sementara terapis lain memoles kuku tangannya dengan warna merah darah yang mengkilap.
Baginya, tangisan anak itu hanyalah kebisingan latar belakang yang tidak sepenting presisi garis manicure-nya.
"Kamu berisik sekali, Richard!" ucap Clarissa tanpa menggerakkan otot wajahnya agar maskernya tidak retak. Suaranya datar, sedingin es, dan penuh penghinaan. "Bawa masuk mainan barumu itu ke kamarnya. Tapi pastikan dia membersihkan kotoran dan tangisan anakmu lebih dulu. Aku tidak ingin mendengar suara bising saat sedang perawatan."
Richard mengeratkan cengkeramannya di pinggang Hana hingga Hana meringis pelan. "Namanya Hana, Clarissa. Dan dia akan tinggal di sini sebagai pengasuh tetap."
Clarissa terkekeh pendek, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. Ia mengangkat satu tangannya, membiarkan terapisnya memeriksa hasil kerjanya. "Pengasuh? Sejak kapan kamu peduli pada anakmu? Bilang saja kau membawa pemuas nafsu baru yang bisa disuruh-suruh. Tapi ingat perjanjian kita, Richard..."
Clarissa akhirnya menoleh, matanya mengunci mata Hana dari kejauhan. Tatapannya bukan tatapan cemburu, melainkan tatapan seorang yang sedang menilai kualitas barang baru suaminya.
"Selama putra mahkota ini aman dan bagian hartaku tidak berkurang satu sen pun saat kita bercerai nanti, kamu boleh membawa jalang mana pun ke rumah ini. Tapi jika dia mengusik ketenanganku, aku sendiri yang akan membuangnya ke sungai Tiber. Begitupun aku, yang bebas melakukan apa saja."
Richard mengabaikan ancaman itu. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Hana hingga Hana bisa merasakan kumis tipis Richard bergesekan dengan kulitnya.
"Istriku sudah memberi lampu hijau! Sekarang pergilah, tenangkan dia," bisik Richard dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Ini tugas pertamamu sebagai pengasuh. Dan jangan lupa, Hana... bersihkan dirimu dengan baik. Malam ini, aku akan menagih tugas keduamu di kamarku. Aku ingin kamu memakai gaun sutra yang sudah kusiapkan."
Hana melangkah perlahan menuju bocah yang masih meronta di lantai marmer. Ia berlutut di depan sang anak, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang pucat. Saat jemarinya menyentuh bahu kecil sang bocah, Hana sempat melirik ke arah Clarissa yang kembali asyik dengan kukunya.
Rumah ini tidak memiliki cinta. Di satu sisi ada Richard yang terobsesi pada kekuasaan dan seks, dan di sisi lain ada Clarissa yang hanya peduli pada angka di rekening bank dan kecantikan fisiknya.
"Jangan dekat-dekat aku!" Galendra kecil itu mengamuk dan mencoba mendorong Hana.
"Sayang, tenanglah! Tubuhmu kotor sekali, kamu harus mandi. Kamu juga harus sarapan. Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanyanya dengan lembut, tidak peduli walau anak itu mengigit tangannya.
Hana membiarkan Galendra kecil menancapkan gigi-gigi susunya ke punggung tangannya. Rasa perih itu menjalar, namun Hana tidak menarik tangannya. Ia justru menatap mata bocah itu dengan binar yang begitu tenang, seolah rasa sakit itu hanyalah angin lalu.
Pemandangan itu tak luput dari lirikan tajam Clarissa di balik masker hijaunya. Ujung bibir sang nyonya rumah berkedut sinis, ia menganggap kesabaran Hana hanyalah akting murahan seorang pelayan baru yang mencoba cari muka.
Namun bagi Richard, ketenangan Hana di bawah serangan putranya justru memicu gairah yang lebih dalam, ia menyukai sesuatu yang tidak mudah pecah meski ditekan.
"Aku mau Maritozzo!" suara Galendra mengecil, isakannya mereda berganti dengan rasa ingin tahu. Matanya yang sembab menatap wajah Hana yang lembut. "Kamu bisa buat itu?"
"Tentu!" bisik Hana, jemarinya kini mengusap air mata di pipi gembul Galendra. "Tapi syaratnya, Gale harus mandi dulu. Tubuh pangeran tidak boleh lengket dan kotor, kan?"
Secara ajaib, bocah yang tadinya seperti monster kecil itu menurut. Ia membiarkan Hana menuntunnya berdiri, meninggalkan para pelayan yang melongo tidak percaya. Richard menyunggingkan senyum kemenangan ke arah istrinya yang masih mematung di sofa.
"Lihat? Dia punya bakat!" sindir Richard ketus sebelum melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan aroma maskulin yang tertinggal di udara.
Hana menuntun Galendra menaiki tangga marmer yang megah. Setiap langkahnya terasa berat, punggungnya masih terasa perih, dan bagian bawah tubuhnya masih berdenyut akibat hentakan tak ampun Richard di bus tadi. Namun, ia menegakkan punggungnya.
Saat mereka melewati sofa tempat Clarissa duduk, langkah Hana melambat. Tanpa menoleh, suara Clarissa yang dingin dan tajam menghentikannya.
"Jangan berpikir karena kamu bisa menjinakkan anak itu, kamu punya posisi di sini, Pelayan," desis Clarissa. Salah satu terapis kuku tampak gemetar saat Clarissa menarik kakinya dengan kasar. "Anak itu hanya alat bagiku untuk memegang harta Richard. Jika kamu merusaknya, atau mencoba menjadi ibu di rumah ini, aku akan memastikan kamu lenyap tanpa jejak."
Hana berhenti sejenak, memberikan senyum tipis yang sangat sopan, senyum yang tidak mencapai matanya. "Saya hanya seorang pengasuh, Nyonya. Tugas saya hanya memastikan Tuan Muda tenang... dan memastikan Tuan Richard mendapatkan apa yang dia bayar."
Jawaban itu membuat Clarissa terdiam sejenak. Ada keberanian yang tenang dalam nada suara Hana yang membuat sang nyonya rumah merasa terusik. Hana pun berlalu, membawa Galendra menuju lantai atas.
"Hana, maaf jika aku mengigitmu!" Galendra keci tiba-tiba berkata dengan manis. "Kamu baik sekali, biasanya aku akan didorong dan dimarahi."
"Kamu manis sekali! Ayo segera mandi! Aku akan buatkan cream kocok yang enak untukmu!"
"Asyik!!!" Galendra segera berlarian menuju kamar mandinya.
"Kamu pintar sekali!" Hana terkejut saat Richard tiba-tiba berbisik di telinganya.
"Kamu membuatku terkejut!" Hana mengurut dadanya yang berdebar kencang.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu, Sayang. Di sini kamu nggak perlu takut kepergok Clarissa. Pernikahan kita terbuka. Aku punya wanita, dia pun punya laki-laki. Jadi santai saja!"
Hana mematung sejenak, mencerna pengakuan Richard yang begitu hambar akan arti sebuah pernikahan. Jadi, kemewahan ini hanyalah panggung sandiwara di mana masing-masing pemerannya bebas mencari hiburan di luar, selama kontrak bisnis dan Putra Mahkota tetap terjaga. Pantas saja Clarissa menatapnya tanpa jejak cemburu, yang ada hanyalah rasa teritorial terhadap aset, bukan cinta.
"Sekarang, selesaikan tugasmu dengan bocah itu." Richard mengusap pinggul Hana sekali lagi, sebuah remasan posesif yang mengingatkan Hana akan posisinya malam ini. "Aku menunggumu di kamar utama satu jam lagi. Jangan terlambat, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke sana."
Richard berlalu dengan tawa rendah yang bergema di lorong sunyi itu. Hana menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu. Ia segera masuk ke kamar mandi besar berlapis marmer, di mana Galendra sudah asyik bermain busa sabun di dalam bathtub.
"Hana! Lihat, aku buat jenggot dari sabun!" seru Galendra riang, wajahnya yang tadinya sembab kini cerah penuh tawa.
Hana tersenyum, kali ini sedikit lebih tulus. "Wah, keren sekali! Ayo, bilas badannya dulu, lalu kita ke dapur untuk buat Maritozzo-nya."
******