Part 3 (Tanggung Jawab)

1105 Kata
Rafa dan Humairah langsung bangun setelah mendengar suara teriakan Naura. Mereka terkejut melihat keberadaan Naura di dalam kamar. Ibu satu anak itu menatap tajam ke arah keduanya membuat Humairah menunduk takut. “Hikss..” Humairah menangis dalam diam “Itu kan Tante Naura, teman Umma! Apa yang akan terjadi setelah ini?” ujar Humairah dalam hati “Ya Allah, Humairah serahkan semuanya pada-Mu.” Nasi telah menjadi bubur. Kehormatan yang telah Humairah jaga selama belasan tahun telah diambil oleh laki-laki b******k itu. Untuk marah sekalipun Humairah sudah tidak memiliki tenaga. Tubuhnya sakit-sakit, bahkan tulangnya serasa ingin patah. Setelah Rafa melakukannya mereka tertidur karena rasa lelah, sampai tidak sadar dengan kedatangan Naura ke dalam kamar. Humairah yakin setelah ini akan terjadi masalah besar. Dan ia pasti telah membuat kedua Orang Tuanya kecewa. “Bunda!” lirih Rafa dengan tatapan terkejut Naura berjalan mendekat ke arah putranya. Dan… PLAK “Sshh..” Rafa meringis kesakitan saat mendapat tamparan dari sang Ibu. Humairah menunduk takut sembari meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Tatapan Naura membuatnya takut. Ia memilih diam karena tidak tahu harus berbuat apa setelah ini. “APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN?” bentak Naura Suara Naura begitu menggelegar membuat Ilham yang berada di ruang tamu mendengarnya. Ilham langsung menuju kamar Rafa ketika mendengar suara bentakan istrinya. “Bunda ini ada apa?” tanya Ilham yang belum menyadari perbuatan Rafa dan Humairah. “Lihat mereka, Yah!” Naura menujuk ke arah Rafa dan Humairah. Ilham mengikuti arah tangan istrinya. Dan betapa terkejut beliau melihat Rafa bersama seorang perempuan yang tidak beliau kenal. Tubuh keduanya ditutup selimut, dan beliau sudah tahu apa yang telah mereka lakukan. Ilham mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Beliau marah besar seperti istrinya. “Apa yang telah kamu lakukan Rafa?” desisnya dengan tajam “—“ Rafa terdiam. “Hikss..” isak tangis Humairah. “Om, Tante, Humairah minta maaf. Ini semua terjadi karena dia yang memaksa Humairah. Dia yang telah membuat Humairah kehilangan kehormatan yang telah Humairah jaga.” ucapnya dengan nada bergetar Sebisa mungkin Humairah menjelaskan pada Naura dan Ilham agar mereka tidak salah paham. Justru hal ini terjadi karena paksaan dari putra mereka. Niat baiknya justu menjadi mala petaka. “Astagfirullah.” Naura memegang dadanya karena terasa sesak. Apa yang beliau lihat saat ini seperti mimpi. Hal yang tidak pernah beliau bayangkan sebelumnya. “Bunda!” Ilham menahan tubuh istrinya karena hampir terjatuh. “Bersihkan tubuh kalian berdua dan setelah itu temui kami ruang keluarga.” ujar Ilham dengan tegas “Dan kamu Rafa, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu.” lanjutnya “Sialan! Apa yang telah aku lakukan?” ujar Rafa dalam hati *** Setelah selesai bersih-bersih Humairah dan Rafa menghampiri Ilham dan Naura yang sedang menunggu mereka di ruang keluarga. Humairah terkejut melihat keberadaan Orang Tuanya di sana. Bahkan ia belum siap untuk menceritakan apa yang telah terjadi. “Ya Allah, apa yang sudah Abah dan Umma ketahui?” batin Humairah berucap Mata Humairah berkaca-kaca menahan tangis. Ia menunduk tidak berani menatap Orang Tuanya. Rasa malu, marah, kecewa pada dirinya bercampur menjadi satu. Nasi sudah menjadi bubur, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa selain berserah diri pada Yang Maha Kuasa. “Duduk!” ujar Ilham Humairah dan Rafa duduk. Tatapan keluarganya begitu dingin dan tajam. Tatapan penuh intimidasi dari keluarganya membuat Humairah ketakutan. Namun berbeda dengan Rafa yang terlihat biasa dan tenang, seolah tidak terjadi sesuatu. Padahal masalah ini terjadi karena perbuatannya. “Rafa jelaskan semuanya!” ujar Ilham dengan nada tegas “—“ Rafa justru terdiam. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. “RAFA!” bentak Ilham “Rafa nggak tahu, Yah. Kejadiannya terjadi begitu saja.” jawabnya dengan penuh ketenangan BRAK Fathir menggebrak meja yang ada di hadapannya. Beliau berdiri menatap tajam ke arah Rafa. Sebagai seorang Ayah beliau merasa besar karena Rafa telah mengambil kehormatan putrinya. Hati beliau hancur berkeping-keping saat mendengar kabar itu dari Keluarga Abdullah. “Ayah, sabar!” Amina memegang lengan suaminya meminta beliau untuk bersabar. Amina merasakan hal yang sama, namun mereka harus menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin. Mereka belum mendengar penjelasan dari Humairah. Amina bisa melihat tatapan terpukula dari putrinya. “Lebih baik kita meminta penjelasan dari Humairah.” ujar Amina “Astagfirullah’haladzim.” Fathir mengelus d**a agar bisa lebih bersabar dan tenang. Fathir kembali duduk. Saat ini semua mata tertuju ke arah Humairah yang sedang menunduk. Mereka menuntut penjelasan darinya. Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi hijab panjang yang Humairah kenakan. Dadanya terasa sesak penuh penyesalan. Naura menatap lembut ke arah Humairah. “Nak, bisa kamu jelaskan semuanya!” “Hikss..” “Pelan-pelan saja! Justru Tante lebih percaya dengan penjelasan kamu.” “Kamu yang tenang, ya!” Naura mencoba menenangkan Humairah yang tengah menangis sesenggukkan. Beliau bisa melihat kali ini putranya yang bersalah. Entah apa yang sebenarnya terjadi sampai hal buruk itu menimpa keluarganya. “T-tadi…” Rasanya Humairah tidak sanggup untuk menceritakan semuanya. Terlalu sesak mengingat kejadian tadi. Bahkan saat ini tangannya bergetar karena rasa trauma. Humairah ingin menjauh dari semua orang. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri dan kedua Orang Tuanya. Naura mengelus lengan Humairah dengan lembut. “Nggak papa, sayang.” “Ceritakan semuanya agar kami tahu kejadian yang sebenarnya. Tante dan kami semua yang ada di sini percaya dengan cerita kamu.” “Kejadian yang sebenarnya adalah…” Dan mengalirlah cerita Humairah yang sesungguhnya. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang dilebihkan atau kurang. Semua terjadi karena perbuatan Rafa. Bahkan laki-laki itu memaksanya untuk melakukan hubungan, dan ia mendapat ancaman jika tidak mau melakukannya. “Astagfirullah.” Mereka semua terkejut setelah mendengar cerita Humairah. Rafa yang mendengar itu hanya terdiam karena dirinya memang bersalah. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak merasa bersalah akan perbuatannya. Ia diam karena tidak ingin menambah masalah. “RAFA!” bentak Ilham BUGH “Aakkhh,” pekik Rafa Ilham memukul putranya dengan cukup kencang. Nafas beliau memburu menahan amarah. Beliau tidak menyangka Ilham bisa melakukan hal seperti itu. Putra yang selalu beliau banggakan telah membuatnya kecewa. Dan ternyata selama ini Rafa tidak sebaik apa yang beliau bayangkan. "Kamu harus menikahi Humairah!" ujar Ilham dengan tegas Deg Rafa terkejut mendengar pernyataan Ayahnya. Ia mendongak menatap Ilham. Tatapannya terlihat tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Orang Tuanya. "Tapi..." "Ayah tidak butuh jawaban kamu! Mau tidak mau kamu harus menikah dengan Humairah." "Jangan menjadi laki-laki pengecut yang meninggalkan tanggung jawab. Apa yang telah kamu perbuat bisa menjadi masalah besar jika kalian tidak segera menikah." ucapnya dengan tegas dan tidak terbantahkan Keputusan yang Ilham ambil sudah tepat. Sebelum hal-hal yang tidak diingikan terjadi Rafa dan Humairah harus menikah. Meskipun berat dan mendadak mereka harus siap dengan segala konsekuensinya. Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN