“Kenapa kamu diam saja, Zahwa? Keluarkan suara indah kamu.” “Hikss..” Humairah terisak karena perbuatan Rafa. Humairah benci dalam situasi saat ini. Kalaupun Rafa meminta Hak’nya secara baik-baik ia akan memenuhinya, tapi bukan dengan cara seperti ini. Humairah merasa terhina dengan perbuatan suaminya sendiri. “Jangan, mas! Ini Humairah, bukan wanita lain.” “Hikss..” Rafa mengelus pipi Humairah dengan Ibu jarinya. Pandangannya mengabur, hal itu membuat dirinya tidak bisa melihat dengan jelas wajah Humairah. Rafa tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri karena pengaruh obat itu. “Kenapa menangis, hm?” “Bukankah ini yang kamu inginkan?” Humairah menggelengkan kepalanya. “Enggak. Humairah tidak menginginkan hal ini.” “Lepasin Humairah, mas!” Brugh Bukannya melepaskan diri

