“Apa yang kamu dan teman-temanmu lakukan itu sama sekali bukan bercanda, Rana! Aku masih tidak ambil pusing saat kamu sering menyindir Mia atau berkata sinis padanya, tapi sekarang tidak bisa lagi. Kamu harus diberi pelajaran jera! ” “Naka! Jangan, Nak. Mama mohon jangan tampar Rana. ” “Sekarang Mama bawa Rana pergi, Papa yang akan bicara sama Naka. Saat ini emosi Naka tidak stabil. ” “Pokoknya aku tidak mau tahu, Rana dan teman-teman harus meminta maaf! Rana juga tidak boleh muncul di depan Mia lagi! Rana tidak boleh ke rumah kami lagi! ” “Iya, Naka. Mereka sangat meminta dan meminta maaf. Papa harap kamu juga mau memaafkan mereka, ya. ” Samar-samar aku mendengar keributan itu. Mataku mengerjap untuk membuka, rasanya silau sekali penerangan di ruangan ini. Sebelum mengedarkan pandang
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari