“Iya, Pak. Saya Orin Daniella, desainer grafis junior baru di sini,” jawab Orin dengan suara berusaha tegas, meski jantungnya berdegup kencang.
Sora hanya mengunggukkan kepalanya sekali, tatapannya melayang singkat ke arah Orin sebelum beralih ke meja kerjanya. Tidak ada kehangatan, tidak ada pengakuan. Bagi Sora, Orin hanyalah sebuah nama dan wajah baru yang harus ia ukur kapabilitasnya.
Orin pun sama sekali tidak menyadari bahwa "Bos Iblis" yang berdiri tegap dengan kemeja putih necis, celana trousers rapi, dan rambut tertata sempurna ini adalah Van, pria berambut acak-acakan dan berpiama yang tadi pagi baru saja ia tinggalkan di apartemen. Transformasinya terlalu ekstrem, dari santai menjadi tegas, dari ramah menjadi dingin bagai es.
“Laksmi sudah membimbing kamu?” tanyanya, suaranya datar, rendah, dan terukur. Setiap kata terpotong jelas, penuh otoritas.
“Sudah, Pak Sora,” balas Orin sambil sedikit menunduk, menghindari kontak mata langsung yang terasa seperti bisa membakar.
Mendengar namanya disebut, Laksmi langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat. Dengan sigap, dia mengambil tablet berisi file tugas yang dikerjakan Orin dan segera menghampiri.
“Pak Sora, ini tugas koreksi visual yang tadi dikerjakan Orin untuk klien skincare,” lapor Laksmi dengan nada formal.
“Bawa masuk. Aku akan memeriksanya di dalam,” perintah Sora singkat, tanpa menoleh, sambil berjalan menuju ruang kerjanya yang terpisah oleh dinding kaca tembus pandang.
“Baik, Pak.” Laksmi segera mengikuti langkah Sora, meninggalkan Orin dan seisi ruangan yang kembali tercekam dalam keheningan tegang.
Orin menarik napas dalam-dalam, merasakan betapa berbeda atmosfer kantor ini dibandingkan dengan apartemen yang mulai ia anggap sebagai rumah.
Di dalam ruangan berpanel kayu dan dinding kaca yang steril, Sora duduk di kursi eksekutifnya, sementara Laksmi duduk tegang di seberang meja. Sora terlebih dahulu memeriksa laporan proyek yang dikerjakan Laksmi. Matanya, seperti laser, menangkap setiap detail.
“Ini pekerjaanmu,” ujarnya, suaranya datar namun memotong. “Kekurangannya di sini, analisis data klien di halaman tiga tidak komprehensif, timeline yang kamu ajukan tidak realistis karena mengabaikan buffer time untuk revisi, dan format presentasi untuk stakeholder terlalu padat, tidak visual.” Jarinya menunjuk layar monitor.
“Kamu harus perbaiki bagian data insight dengan menambahkan benchmark kompetitor, dan sederhanakan timeline menjadi fase-fase yang lebih jelas.”
Laksmi hanya mengangguk, sesekali menjawab, “Iya, Pak,” dengan suara patuh.
Kritikan pedas seperti ini sudah jadi makanan sehari-harinya. Seluruh staf di luar tahu, menghadapi Sora berarti harus siap mendengar kekurangan pekerjaan mereka secara blak-blakan.
Setelah Laksmi, giliran pekerjaan Orin yang ditatapnya. Sora menyeringai tipis, ekspresi yang membuat Laksmi semakin tegang.
“Ini kerjaan anak baru itu?” tanyanya sarkastik. “Banyak sekali kekurangan mendasar. Dia kurang di bagian sense of color harmony, palet warnanya terlalu aman dan tidak memorable. Tipografinya berantakan, hierarki teks tidak terbaca. Dan yang paling fatal, komposisi visualnya statis, tidak ada focal point yang menarik mata.”
Kritikannya tajam dan tanpa ampun, setiap kata seperti palu yang menghujam. “Beri tau dia untuk mempelajari moodboard klien lebih dalam, ulang dari awal dengan tiga opsi konsep yang berbeda, dan jangan cuma jadi 'order-taker'. Aku mau lihat pemikiran desainnya, bukan sekadar perbaikan teknis.”
Laksmi dengan cepat mencatat setiap poin di notepad kecilnya. “Baik, Pak Sora.”
Begitu keluar dari ruangan itu, napas Laksmi sedikit terlepas. Dia menghampiri Orin yang sedang cemas menunggu.
“Orin, ini catatan untukmu dari Pak Sora,” ujarnya, menyodorkan selembar kertas penuh coretan.
Orin menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Matanya meluncur deras di atas daftar panjang kritikan yang pedas dan detail. Hatinya seperti dicengkeram. “Ternyata... pekerjaanku masih kurang dari kata baik,” keluhnya lirih, rasa percaya dirinya yang sempat mengembang tiba-tiba kempes.
Laksmi melihat raut hancur di wajah Orin dan teringat dirinya di hari pertama. “Kamu masih baru, jadi wajar,” ujarnya, kali ini dengan nada lebih lembut. “Kami yang sudah lama di sini aja masih sering dapat revisi di mana-mana. Bos memang perfeksionis. Anggap saja ini booting process wajib di tempat ini.”
Namun, kata-kata penghiburan itu nyaris tidak terdengar oleh Orin. Pikirannya masih tertuju pada satu kalimat di catatan itu.
“Ulang dari awal.”
Hari pertama yang sudah sulit, kini terasa seperti mendaki tebing terjal tanpa tali.
*
Orang berjalan dengan tas dan beberapa file kerjaannya di bawahnya pulang. Di kantor dia belum selesai menyelesaikan pekerjaannya itu karena banyaknya evaluasi harus dia kerjakan.
“Aku kira bekerja di kantor itu akan mudah tapi ternyata bosnya killer, dan rekan kerja yang lain terlihat sibuk sendiri dengan urusan mereka,” desahnya merasa hari pertama bekerja sangat berat tidak seperti yang dibayangkannya.
Tapi sekali lagi Orin sadar bila mencari dan mendapatkan pekerjaan di jantung ibukota tidaklah mudah, jadi dia mencoba untuk bersabar mungkin hari pertama dia keras tapi makin lama nantinya akan semakin mudah atau terbiasa.
Setelah melewati jalan raya yang ramai Orin tiba di apartemen. Di garasi terlihat kosong tak ada mobil yang terparkir di sana. 'Apa Van nggak ada di rumah?' Ia langsung mengeluarkan kunci untuk membuka pintu.
Setelah masuk, suasana di dalam sepi.
“Selamat sore.”
Hening. Tak ada respons.
Pintu apartemen terbuka dengan berat. Orin menaruh tas kerjanya ke sofa, lalu ambruk di kursi ruang tengah. Dia tidak sedang menunggu Van, ini murni pelarian. Kesibukan hari pertama, tuntutan sempurna, kritikan pedas dari Bos Iblis, dan lingkungan kantor yang dingin, semua menumpuk di kepalanya seperti awan gelap.
Ia menutup mata, mencoba menarik napas dalam-dalam. Keheningan apartemen yang kemarin masih terasa asing, kini justru menjadi pelindung dari dunia luar yang terlalu banyak menuntut. Di sini, setidaknya, dia bisa bernapas tanpa dinilai.
Malam semakin larut, dan apartemen tetap sunyi hanya diisi oleh suara AC yang berdesis. Orin memilih untuk makan malam sendiri, lalu meninggalkan seporsi nasi goreng dengan telur mata sapi di atas meja makan, ditutupi tudung saji.
Sebuah catatan kecil tertempel. “Untuk Van. Kalau mau, bisa dihangatkan.” Lelah fisik dan mental dari hari pertamanya akhirnya menyeretnya ke kamar, di mana ia tertidur pulas tanpa sempat membuka ponsel sekali pun.
Hampir tengah malam, kunci berputar pelan di pintu depan. Van melangkah masuk dengan langkah lelah, namun langsung mencium aroma bawang putih dan kecap yang masih samar-samar tersisa di udara.
Matanya menangkap porsi makanan yang tertutup rapi di meja, dan senyum kecil spontan muncul. “Sepi?” gumamnya lirih sambil melepas jaket.
Ia melirik ke arah kamar Orin yang gelap dan pintunya tertutup.
“Dia sudah tidur, ya.”