Van baru bangun siang seperti biasa. Setelah mengusap wajah yang masih mengantuk, ia berjalan ke dapur dan menarik kursi untuk duduk. Matanya langsung menangkap sebuah piring tertutup tudung saji dan segelas jus jeruk segar di tengah meja. Di sampingnya, tertinggal secarik kertas kecil yang dilipat rapi. Dia mengambil kertas itu dan membukanya. Tulisan Orin yang rapi terbaca. “Van, ini sarapan paginya. Aku tahu kamu bangun siang atau mungkin sibuk. Di saat kamu baca ini, pastinya aku sudah berangkat. Selamat makan. -Orin” Seulas senyum spontan merekah di wajahnya. Hatinya terasa hangat dan terenyuh. “Kamu manis sekali, Orin,” gumamnya lirih pada ruangan yang kosong, seolah Orin bisa mendengarnya. Dia membuka tudung saji. Di hadapannya tersaji nasi kuning gurih dengan telur dadar iris

