Benteng Kecil Yang Dingin

1266 Kata
Abby menatap cincin di jari manisnya, sebuah lingkaran perak polos dengan batu kecil yang nyaris tak berkilau, menyatu sempurna dengan batangnya. Melalui logam itulah, beberapa menit lalu, dia merasakan sentuhan kulit Damian untuk pertama kalinya, dingin, singkat, dan penuh protokol. Sentuhan yang lebih mirip penyerahan dokumen daripada ikrar suci. "Aku sudah menikah," gumamnya. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya, seperti mengucapkan sebuah fakta tentang orang lain. Dalam imajinasinya, pernikahan seharusnya diiringi gaun, kue, dan tangis bahagia. Bukan seperti ini sunyi, efisien, dan dengan petugas yang berkali-kali melirik jam tangannya. Pikiran tentang neneknya menyelinap. Seminggu setelah kepergian nenek, dia hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam duka dan kekosongan, mengunci diri di rumah, menatap dinding. Lalu, dengan sisa tenaga, dia mulai mengirimkan lamaran kerja ke berbagai tempat. Tidak pernah sekalipun terlintas bayangan tentang hari seperti ini, hari di mana dirinya tiba-tiba menjadi Nyonya Callahan. Dia mengambil ponsel. Jari-jarinya yang masih dingin mengetuk nama ‘Erica’. Hanya suara sahabatnya yang bisa menjadi jangkar di tengah rasa aneh yang melanda. "Halo?" "Aku baru saja menikah," ucap Abby, langsung ke inti, suaranya datar. "Apa?!" Terdengar sesuatu jatuh di seberang sana. "Kamu serius?!" "Ya." "Jangan bercanda, Abby!" "Kapan terakhir kali aku membohongimu?" balas Abby, sedikit tersenyum getir. "Buktikan. Kirim fotonya." Abby mengangkat tangan kirinya, mengarahkan kamera pada jari manisnya yang sekarang dimahkotai cincin sederhana. Dia segera mengirimkannya. Beberapa detik hening, lalu teriakan nyaring memecah telinganya. "Ya, Tuhan! Abby! Ini ... selamat, sayang! Aku … aku benar-benar tidak menyangka!" Suara Erica terdengar seperti campuran antara syok, heboh, dan tulus bahagia. Abby tertawa kecil, pendek, terdengar gugup. "Semuanya terasa … sangat aneh, Er." "Tentu saja terasa aneh! Kamu baru saja melakukan lompatan raksasa. Nikmati saja prosesnya. Perlahan-lahan kamu akan terbiasa." "Aku masih deg-degan sampai sekarang." "Kamu di mana sekarang? Di mana suamimu?" Abby menoleh ke jendela, melihat gedung berlantai tujuh di depannya. "Aku lagi di cafe depan gedung kantornya. Dia mampir ke kantor sebentar. Setelah itu dia akan mengajakku ke rumahnya. Untuk bertemu anak-anaknya." "Tiga anak, Abby ...." Nada Erica berubah menjadi khawatir. "Ya, dua remaja dan satu balita," potong Abby cepat, seakan mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku cuma perlu mengurus yang bungsu. Dua yang lain … mungkin tidak perlu terlalu banyak interaksi." Dia mencoba mengatakannya dengan yakin, tetapi genggamannya yang erat pada ponsel dan tatapannya yang kosong ke luar jendela menunjukkan betapa dia sebenarnya sedang berusaha menenangkan diri yang gemetar. "Semoga semua berjalan lancar, Abby," ucap Erica yang diamini oleh Abby. Tidak berselang lama, mobil hitam Damian mendarat halus di tepian trotoar. Abby melihat pria itu berdiri di samping mobilnya melalui jendela kafe, tubuhnya tegak dan wajahnya tak terbaca. Dengan sisa kopi yang masih hangat di kerongkongannya, Abby berjalan keluar. Damian telah membuka pintu penumpang depan. Sebuah gestur sopan yang terasa lebih seperti protokol daripada kesantunan. Sepanjang perjalanan, keheningan yang padat memenuhi kabin mobil. Hanya suara mesin yang halus dan desir ban di aspal. Abby menatap pemandangan kota yang berganti menjadi kawasan rumah-rumah besar yang tertata rapi. "Tidak bisakah Anda memberi tahu sedikit tentang mereka? Sebelum saya bertemu langsung?" tanya Abby akhirnya, suaranya terdengar kecil di ruang yang sunyi. "Kamu akan melihat sendiri bagaimana mereka," jawab Damian, matanya tetap tertuju pada jalan. Singkat. Final. Abby menarik napas dalam-dalam. Dia mulai memahami pola ini, Damian bukan tipe orang yang memberikan peta sebelum seseorang masuk ke labirin. Dia hanya akan membuka pintu, dan mengharapkan Abby untuk menemukan jalannya sendiri, atau tersesat. Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam yang membuka dengan halus. Sebuah rumah dua lantai bergaya modern minimalis terbentang, dengan dinding kaca besar dan garis-garis arsitektur yang tajam. Abby membuka pintu mobil dan terpana. Rumah itu bukan cuma besar, ia megah, dingin, dan mengintimidasi. Setiap jendelanya bagai mata yang menyorotinya, menegaskan betapa jauhnya dunia ini dari kamar sempit dan dapur sederhana yang ia tinggali. "Abby." Suara Damian memanggilnya. Dia sudah berdiri di depan pintu utama, seorang penjaga bagi kerajaannya. "Mari masuk." Abby bergegas menyusul, sepatu flats-nya terasa sangat sederhana di atas jalanan batu alam yang mulus. Saat pintu terbuka, seberkas udara sejuk yang wangi, campuran kayu mahoni dan bunga menyambutnya. Ruang tamu yang luas terbentang, dengan langit-langit tinggi, perapian marmer, dan perabotan yang terlihat begitu antik dan mahal hingga Abby hampir takut untuk menyentuhnya. Kesunyian di sini berbeda, bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang penuh, terdengar dari setiap barang berkualitas yang menuntut untuk dihormati. "Audrey! Aidan!" panggil Damian, suaranya menggema di ruang yang hening. Abby berdiri kaku di tengah-tengah ruangan yang luas, merasa seperti spesimen yang dipajang. Dari balik tangga spiral, muncul seorang gadis remaja. Rambut hitam lurusnya terjuntai hingga punggung, kontras dengan kaus putih ketat dan celana pendek yang dikenakannya. Matanya, sewarna dengan ayahnya, langsung menempel pada Abby seperti laser. Di belakangnya, seorang anak lelaki yang lebih muda melangkah pelan, wajahnya netral, mainan game di tangannya tidak berhenti dimainkan. "Siapa ini, Dad?" tanya gadis itu, Audrey. Sorot matanya menyapu Abby dari ujung rambut ikalnya yang sederhana, blus katun, hingga ke ujung sepatu flats yang sudah agak usang. Pandangan itu bukan sekadar melihat, melainkan menilai, mengukur. "Ini Abby. Dia akan membantu mengasuh Suri," perkenalan Damian datar dan fungsional. "Abby, ini Audrey, dan itu Aidan." Aidan hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar di tangannya, sikap apatis yang nyaris menyakitkan. Audrey menyilangkan tangan di dadanya, satu alis terangkat tinggi. Ekspresinya adalah perpaduan sempurna antara kecurigaan dan keangkuhan remaja. "Di mana adik kalian?" tanya Damian. "Di kamarnya, Dad. Di mana lagi?" sahut Audrey dengan nada datar yang penuh sarkasme. Abby melihat rahang Damian mengeras. Sebuah helaan napas yang hampir tak terdengar keluar dari hidungnya sebelum ia menoleh ke Abby. "Ayo ke atas. Saya akan perkenalkan kamu pada Suri." Damian mulai menaiki tangga, melewati kedua anaknya tanpa kata-kata lebih lanjut. Abby segera mengikutinya, merasakan tatapan tajam Audrey yang menempel di punggungnya seperti duri, sambil berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba menjadi pendek dan tidak teratur. Di lantai dua, koridor yang lapisnya dari kayu gelap mengarah ke beberapa pintu tertutup. Langkah Abby terasa teredam oleh karpet tebal nan lembut yang menghampar, berbeda sama sekali dengan lantai kayu rumah lamanya yang selalu berderit. Damian berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor, membukanya dengan dorongan yang pelan. Abby mengunci napasnya di d**a. Dari ambang pintu, dia melihat Damian masuk ke dalam kamar yang penuh warna lembut, pastel biru, krem, dan kuning muda, berlawanan dengan kesan minimalis dan monokrom di lantai bawah. "Halo, Sayang," suara Damian berubah, menjadi lebih rendah dan terdengar lebih cair daripada nada biasanya. "Daddy ingin mengenalkan seseorang padamu." Abby melangkah masuk perlahan. Di tengah ruangan, di atas karpet berbulu halus, duduk seorang gadis kecil dengan rambut ikal cokelat pirang. Dia dikelilingi oleh mainan-mainan kayu dan boneka binatang, namun tangannya hanya memegang satu benda: sebuah kubus kayu kecil berwarna merah, yang ia putar-putar di antara jemarinya dengan ritme yang konstan. Duduklah Damian di karpet, menjaga jarak yang cukup dekat namun tidak menyentuh. "Ini Abby. Mulai hari ini, Abby akan menemanimu bermain. Mau menyapanya?" Abby, berusaha menenangkan degup jantungnya, dengan hati-hati menurunkan tubuhnya hingga duduk melipat kedua kakinya di seberang gadis kecil itu. Dia menyunggingkan senyum terlembutnya. "Halo, Suri. Senang bertemu denganmu." Mata Suri, berwarna hazel yang jernih, bergerak naik. Tatapannya kosong, tidak fokus pada mata Abby, melainkan seolah-olah melihat sesuatu tepat di belakang bahunya. Hanya sesaat. Lalu, tanpa ekspresi, tanpa senyuman atau anggukan, pandangannya kembali jatuh ke kubus kayu di tangannya. Jari-jari mungilnya kembali memutar-mutar benda itu, seolah percakapan dan kehadiran orang asing itu tak pernah terjadi. Dunianya tetap berputar pada porosnya sendiri, tertutup, dan sunyi. Di balik senyumnya yang tetap terjaga, Abby merasakan sebuah dingin yang merayap. Tantangan yang dihadapinya bukanlah seorang anak yang pemalu atau cengeng, melainkan sebuah benteng kecil yang diam dan tak tersentuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN