Tangis Suri pecah memenuhi kamar. Suaranya melengking, nyaring, seperti sirene kecil yang tak bisa dimatikan. Wajahnya memerah, air mata dan ingus bercampur membasahi pipi. Damian memangku putri bungsunya, tangannya mengelus punggung mungil itu dengan lembut, tapi tidak ada yang bisa menghentikan tangisnya. "Ayo, cari Abby, Daddy." Suara Suri sela-sela isak, terbata-bata. "Aku mau sekolah." Damian mengusap air mata di pipi Suri. Jemarinya basah. "Untuk sekarang, Suri ditemenin Audrey dulu, ya?" Suaranya lembut, mencoba menawar. Kepala Suri menggeleng cepat. Keras. "Tidak mau! Tidak mau sama Audrey!" Ia mendorong d**a ayahnya dengan tangan mungil. "Mau Abby!" "Sayang—" "Tidak mau!" teriak Suri, lebih keras. Tubuhnya mengejang. "Abby, Daddy. Abby mana?" Damian menariknya ke dalam peluk

