Rigel terbangun saat suara berisik mengusik gendang telinganya. Perlahan ia membuka kelopak mata, samar terlihat bayangan seseorang dan juga suara-suara di sekitarnya. Namun, semua itu tampak samar-samar, kesadarannya belum terkumpul semua. "Ayah!" "Ayah, Rigel sudah bangun." "Ayah, cepat kemari!" Rigel membuka mata sepenuhnya, mendapati sosok itu yang tak lain ibunya. Lalu pintu ruangan terbuka, sosok laki-laki paruh baya berlarian mendekat. Wajahnya tampak khawatir sekali. "Nak." Laki-laki itu menyentuh puncak kepala Rigel, kemudian tersenyum lega. "Syukurlah, akhirnya kamu siuman juga." Rigel masih diam, bibirnya seakan kelu. Kepalanya juga masih terasa pusing, seolah-olah ia baru saja tertidur cukup lama. Padahal seingatnya ia baru semalam tidur karena kelelahan bermain game.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


