Malam masih larut ketika mereka semua mendengar seruling yang dimainkan oleh Mato Bizil dengan irama memilukan, irama yang mengentalkan atmosfer dalam kepedihan. Satu-satunya irama yang mengisi keheningan malam, malam yang semakin dingin di musim semi yang seharusnya hangat. Semua orang masih berduka hingga belum ada yang bisa memejamkan mata dan hanya berbaring mendengarkan Mato meniup seruling dari teras pondoknya. Jared menarik Mara lebih erat ke dalam pelukannya untuk memberi rasa damai jika mereka ada untuk tetap bersama. Mara benar-benar merasa beruntung karena memiliki seorang pria yang bisa dia ajak berbagi rasa seperti ini. "Kau melihat api?" tanya Mara tiba-tiba."Kau melihat api sebelum kebakaran itu terjadi." Mara baru ingat untuk membahasnya sekarang. "Itu hanya mimpi, jan

