Senyum menghiasi bibir Bram sembari menyibakkan rambut ke belakang telinga istrinya. Pertama kali tahu usia Puspa, Bram tidak tertarik. Mana mungkin di usianya yang menjelang empat puluh tahun, menikah dengan gadis yang baru lulus kuliah. Dia capek kalau harus momong dan membimbingnya lagi. Sementara Sandra yang usianya seimbang, hanya selisih bulan saja, begitu susah untuk dipahami. Padahal mereka menikah setelah berpacaran cukup lama. Memang benar ketika pacaran, yang tampak hanya indah-indahnya saja. Segala keburukan tertutup karena sedang dimabuk cinta. Namun kenyataannya, Puspa justru pandai membawa diri. Begitu manis dan selalu tersipu-sipu, membuat Bram merasa tertantang. Jatuh cinta hampir setiap waktu dengan kemanisan istri kecilnya. Ternyata Puspa juga tidak gila belanja. Ba